LAPORAN KERJA PRAKTIK PEMBANGUNAN RUSUNAWA PGGRI YOGYAKARTA.
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL
A. Latar belakang proyek................................................................... 1
B. Tujuan kerja praktik
.................................................................... 1
C. Lokasi Proyek .............................................................................. 2
D. Data proyek
................................................................................. 3
E. Lingkup pengamatan proyek…………………………………… 5
A. Tinjauan umum.............................................................................. 6
B. Struktur organisasi
....................................................................... 6
A. Bahan bangunan............................................................................ 10
B. Alat – alat yang digunakan .......................................................... 18
A. Pekerjaan struktur atas................................................................... 23
B. Waktu
kerja
....................................................................... 30
A. Tinjauan umum.............................................................................. 33
B. Pekerjaan persiapan .................................................................... 33
C. Pekerjaan penulangan .................................................................. 34
D. Pekerjaan pemasangan bekesting balok ...................................... 38
E.
Pekerjaan
pengecoran balok………………………………… 42
F.
Pembongkaran
bekesting……………………………………… 44
G.
Perawatan
beton pada balok…………………………………… 46
A. Tinjauan umum...................................................................... 47
B. Pengendalian kualitas bahan ........................................................ 48
C. Pengendalian jadwal pelaksanaan ............................................... 52
D. Pengendalian alat berat ................................................................ 53
E.
Pengendalian
tenaga kerja……………………………………… 53
F. Pengendalian biaya…………………………………………… 54
G. Pengendalian pekerjaan……………………………………… 54
A. Kesimpulan............................................................................. 55
B. Saran ..................................................................................... 55
Proyek Pembangunan Rumah Susun
Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
merupakan
proses pembangunan gedung baru yang nantinya akan digunakan untuk tempat
tinggal sementara bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Proyek gedung ini
sendiri terdiri dari 3 (tiga) lantai. Pekerjaan ini dikerjakan dengan sistem
yang memisahkan kegiatan perencanaan dengan kegiatan pengawasan pelaksanaan
proyek. Pelaksana pekerjaan ini adalah PT. Brantas Abipraya yang telah diberi
kepercayaan dari Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera) untuk pleaksanaan
penyediaan rumah susun wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tabel
1.3 Tipe balok
BAB III
Penulangan balok diawali dengan memasang bekisting balok bagian bawah yang
terbuat dari multiplek. Penulangan
balok meliputi penulangan balok induk dan balok anak, yang terdiri dari
penulangan pokok dan penulangan geser,
seperti pada Gambar
3.18 sedangkan untuk pengerjaan
penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PADA PROYEK
Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa)
wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
WAHYU EKO PRASETYO
20110110168
JURUSAN TEKNIK
SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2015
LEMBAR
PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTEK
Proyek
Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan
Daerah Istimewa Yogyakarta Lokasi : Jalan Ambarbinangun, Sonopakis,
Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Disusun guna melengkapi persyaratan
untuk mencapai derajat Strata-1
Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Disusun oleh :
WAHYU
EKO PRASETYO
20110110168
Telah diperiksa dan disetujui oleh
:
|
Yogyakarta, 2015
Site Manager
Ir.Yusron Mastur, SE
|
Yogyakarta, 2015
Dosen pembimbing
Edi Hartono, ST, MT.
|
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun
dapat menyusun Laporan Kerja Praktek. Sholawat serta salam kami ucapkan kepada
Nabi Muhammad SAW, keluarga serta sahabat–sahabatnya yang telah membawa kita
dari zaman kebodohan menuju alam yang penuh ilmu pengetahuan seperti sekarang
ini.
Kerja praktek ini dilaksanakan di Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah
II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta berlokasi di di jalan Ambarbinangun,
Sonopakis, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pengamatan pelaksanaan pekerjaan
dilakukan melalui gambar kerja pengamatan langsung di lapangan dan pengamatan
data di kantor proyek.Penulisan Laporan Kerja Praktek ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan
kurikulum guna menyelesaikan studi Strata 1 pada jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Selama melaksanakan Kerja Praktek, maupun dalam menyelesaikan laporan
penyusun banyak menerima kritik dan saran, dukungan dan bimbingan serta
petunjuk-petunjuk yang senantiasa sangat bermanfaat tak lupa kami ucapkan
banyak terima kasih kepada :
1.
Allah SWT atas besarnya karunia yang diberikan dan tiada pernah bisa tertandingi oleh
siapapun.
2.
Ibu, Bapak, dan kakak-kakak atas doa nya.
3.
Bapak Jazaul Ikhsan, ST, MT, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.
4.
Ibu Ir. Anita Widianti, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
5.
Dosen Pembimbing Kerja
Praktek Bapak Edi Hartono, ST, MT,. yang telah memberi pengarahan dan bimbingan serta koreksi yang sangat
baik dalam penyusunan laporan ini.
6.
Para pelaksana di tempat kerja praktek yang telah membimbing serta membantu
selama pelaksanaan KP.
7.
Teman-teman Kerja Praktek
yang telah ikut serta melaksanakan Kerja Praktek
disana, Robby
Nur, Ari Yudistira, Mahfudin.
Dengan segenap kerendahan hati dan
keterbatasan kemampuan saya, saya selaku penyusun menyadari bahwa laporan ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan laporan ini.
Harapan saya selaku penyusun, semoga
laporan ini dapat bermanfaat nantinya sebagai referensi dalam bidang Teknik Sipil
dan terutama untuk kelanjutan studi penyusun.
Yogyakarta, Januari 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN
PENGESAHAN
LEMBAR MONITORING
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
A. Latar belakang proyek................................................................... 1
B. Tujuan kerja praktik
.................................................................... 1
C. Lokasi Proyek .............................................................................. 2
D. Data proyek
................................................................................. 3
E. Lingkup pengamatan proyek…………………………………… 5
BAB II ORGANISASI
....................................................................... 6
A. Tinjauan umum.............................................................................. 6
B. Struktur organisasi
....................................................................... 6
BAB III BAHAN
DAN ALAT
................................................................... 10
A. Bahan bangunan............................................................................ 10
B. Alat – alat yang digunakan .......................................................... 18
BAB IV PELAKSANAAN ....................................................................... 23
A. Pekerjaan struktur atas................................................................... 23
B. Waktu
kerja
....................................................................... 30
BAB V TINJAUAN KHUSUS……………………...................................... 33
A. Tinjauan umum.............................................................................. 33
B. Pekerjaan persiapan .................................................................... 33
C. Pekerjaan penulangan .................................................................. 34
D. Pekerjaan pemasangan bekesting balok ...................................... 38
E.
Pekerjaan
pengecoran balok………………………………… 42
F.
Pembongkaran
bekesting……………………………………… 44
G.
Perawatan
beton pada balok…………………………………… 46
BAB VI PENGENDALIAN
PROYEK………............................................. 47
A. Tinjauan umum...................................................................... 47
B. Pengendalian kualitas bahan ........................................................ 48
C. Pengendalian jadwal pelaksanaan ............................................... 52
D. Pengendalian alat berat ................................................................ 53
E.
Pengendalian
tenaga kerja……………………………………… 53
F. Pengendalian biaya…………………………………………… 54
G. Pengendalian pekerjaan……………………………………… 54
BAB VI PENUTUPAN………............................................................. 55
A. Kesimpulan............................................................................. 55
B. Saran ..................................................................................... 55
LAMPIRAN
ABAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Proyek
Proyek Pembangunan Rumah Susun
Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
merupakan
proses pembangunan gedung baru yang nantinya akan digunakan untuk tempat
tinggal sementara bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Proyek gedung ini
sendiri terdiri dari 3 (tiga) lantai. Pekerjaan ini dikerjakan dengan sistem
yang memisahkan kegiatan perencanaan dengan kegiatan pengawasan pelaksanaan
proyek. Pelaksana pekerjaan ini adalah PT. Brantas Abipraya yang telah diberi
kepercayaan dari Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera) untuk pleaksanaan
penyediaan rumah susun wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
B.
Tujuan
Kerja Praktik
Adapun Tujuan
dilaksanakannya kerja praktek pada Proyek Pembangunan rumah susun wilayah II
Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah :
1. Menambah
ilmu dan wawasan yang seluas-luasnya mengenai proyek pembangunan struktur gedung.
2. Berperan
aktif dalam mempelajari data perencanaan dan metode pelaksanaan pada suatu
proyek konstruksi.
3. Sebagai
salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Teknik pada Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4. Memberikan
gambaran pekerjaan di lapangan (melihat secara visual jalannya suatu proyek)
5. Mengaplikasikan
teori-teori yang telah didapat selama masa perkuliahan.
C.
Lokasi
Proyek
|
U
|
Gambar
1.1 Lokasi proyek
D.
Data
Proyek
1. Data
Umum
Secara garis besar data Proyek Pembangunan Rumah
Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah
II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1 Data proyek
|
Nama Proyek
|
Proyek
Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan
Daerah Istimewa Yogyakarta
|
|
|
Waktu Pelaksanaan
|
Dimulai 6 Oktober 2014 – 15
Januari 2015
|
|
|
Rangka Bangunan dan Rangka Atap
|
Menggunakan beton bertulang dan baja
|
|
|
Fungsi Bangunan
|
Untuk tempat tinggal sementara
Mahasiswa
|
|
|
Pemberi Tugas
|
Kemenpera
|
|
|
Penyedia Barang dan Jasa
|
PT. Brantas Abipraya
|
|
|
Konsultan Perencana
|
PT. Duta Mitra Konsultan
|
|
|
Konsultan Pengawas
|
Ciriajasa CM
|
|
|
Sumber
Dana
|
BUMN
|
|
|
Sumber : Data proyek PT.
Brantas Abipraya
|
||
2. Data
umum struktur dapat diuraikan sebagai berikut (Lampiran 2) :
a. Pekerjaan
Sloof
Sloof
yang digunakan pada bangunan ini berukuran Sloof S1 (300 × 450 mm), dengan mutu beton K250.
b. Pekerjaan
Kolom
Kolom yang digunakan dengan mutu beton K250 pada
bangunan ini mempunyai beberapa ukuran sebagai berikut :
Tabel
1.2 Tipe kolom
|
No
|
Tipe
Kolom
|
Dimensi
|
|
1
|
K1A
|
400 × 600 mm
|
|
2
|
K1B
|
400 × 600 mm
|
|
3
|
K1C
|
300 × 500 mm
|
|
4
|
K1D
|
300 × 400 mm
|
|
5
|
K2A
|
300 × 500 mm
|
|
6
|
K2B
|
300 × 500 mm
|
Sumber : Gambar
Kerja Proyek Pembangunan Rusunawa
c. Pekerjaan
Balok
Balok dengan mutu beton K250 yang digunakan pada
bangunan ini mempunyai beberapa ukuran sebagai berikut :
Sumber : Gambar
Kerja Proyek Pembangunan Rusunawa
d. Pelat
Lantai
Pelat lantai menggunakan beton bertulang dengan
ketebalan sebagai berikut :
A1
Plat Lantai T = 120 mm, menggunakan tulangan D8-150
e. Pekerjaan
Tangga
Tangga adalah jalur yang mempunyai trap – trap yang
berguna untuk menghubungkan antar lantai. Tangga
sebagai alat untuk naik turun antar lantai pada sebuah bangunan bertingkat.
Letak tangga harus dibuat agar mudah terlihat dan mudah dicari oleh orang yang
akan menggunakannya. Untuk Plat tangga menggunakan beton bertulang dengan
ketebalan T = 170 mm, menggunakan tulangan D10-200 dan D13-150. Dan untuk Plat
bordes tangga menggunakan beton bertulang dengan ketebalan T = 170 mm,
menggunakan tulangan D10-200 dan D13-150.
E.
Lingkup
Pengamatan Proyek
Kerja Praktek dilaksanakan selama 45 hari terhitung mulai tanggal 13 November 2014. Selama kerja praktek penyusun ikut pada
pihak kontraktor. Penyusun
hanya bisa melaporkan berbagai kegiatan proyek yang dilaksanakan sesuai dengan
jadwal kerja
praktek yang telah diprogramkan oleh PT. Brantas
Abipraya. Karena keterbatasan waktu, maka kerja praktek yang kami laksanakan
tidak dapat melakukan pengamatan pelaksanaan pekerjaan secara menyeluruh dan
oleh sebab itu kami membatasi masalah – masalah yang akan dibahas, yaitu pada
bagian – bagian pekerjaan yang berlangsung selama kurun waktu kerja praktek
saja.
BAB II
ORGANISASI
A. Tinjauan Umum
Organisasi adalah sarana atau alat untuk mencapai suatu
tujuan bersama, atau dengan kata lain,
suatu wadah kegiatan bagi orang-orang yang bekerja sama dalam usaha mencapai
suatu tujuan. Kegiatan tersebut dapat berupa jasa maupun fisik sesuai dengan
tujuan yang hendak dicapai. Dalam wadah kegiatan ini setiap orang harus jelas
tentang tugas, kewajiban, tanggung jawab, wewenang, hubungan dan tata kerja masing-masing.
Secara pendekatan proyek (project
approach), proyek dapat diartikan sebagai kegiatan/tugas yang sifatnya
tidak berulang/hanya sekali (one time
under taking), yang dapat dinyatakan dalam bentuk tujuan yang spesifik/khas,
komplek dengan tidak melupakan adanya saling ketergantungan antara tugas-tugas
detail yang harus diselesaikan. Organisasi proyek bertanggung jawab untuk
menyelesaikan pancapaian tujuan yang ditugaskan sesuai dengan spesifikasi yang
ditentukan, waktu yang ditetapkan, batas-batas biaya yang ditentukan, standar
kualitas yang telah disetujui dan laba yang ditujukan oleh perusahaan.
B.
Stuktur Organisasi
Struktur organisasi adalah suatu kerangka kerja yang
mengatur pola hubungan kerja antara orang atau badan yang berada di dalamnya, dimana masing-masing mempunyai
peranan, tugas, kewajiban serta tanggung jawab tertentu dalam suatu kesatuan
yang utuh. Susunan struktur
organisasi untuk Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah
Istimewa Yogyakarta.
Pada pelaksanaan
ada unsur – unsur pelaksana proyek yang akan dijelaskan sebagai berikut :
- Project Manager
a.
Melakukan koordinasi kedalam (team proyek, manajemen,
dll) dan keluar.
b.
Dibantu semua koordinator menyiapkan rencana kerja
operasi proyek, meliputi aspek teknis, waktu, administrasi dan keuangan proyek.
c.
Melaksanakan dan mengontrol operasional proyek sehingga
operasi proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana (on track).
d.
Mengidentifikasi dan menyelesaikan potensi masalah yang
akan timbul agar dapat diantisipasi secara dini.
e.
Mengkomunikasikan dalam bentuk lisan dan tertulis (laporan kemajuan pekerjaan).
- QC
(Quantity Control) dan Tenaga administratif
a.
Memastikan operasional proyek berjalan dengan
menggunakan standar yang sudah baku, serta diakui secara nasional maupun
internasional.
b.
Memberikan saran dan masukan teknis dan non teknis
tentang proses operasional proyek.
c.
Mengontrol proses operasional proyek agar berjalan
sesuai dengan aturan dan
tidak melanggar rambu-rambu yang sudah disepakati.
d.
Menyiapkan dokumen administrasi dan pendukung berupa :
Berita acara layak pakai,
Berita acara penerimaan barang, Surat pengiriman
barang /DO, Berita acara nstallasi, Invoice/tagihan, dll) yang menyangkut
operasional proyek selama pekerjaan berjalan.
e.
Melakukan monitoring terhadap kemajuan proyek.
f.
Melakukan proses penagihan.
g.
Membantu Proyek Manager dan para Koordinator dalam
menyiapkan perangkat monitoring pekerjaan, pelaporan, berita acara dan lain lain.
h.
Menyesuaikan gambar perencana dengan kondisi nyata
dilapangan.
i.
Menjelaskan kepada pelaksana lapangan/surveyor.
- Inspector
a. Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak
kerja.
b. Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan
pelaksanaan proyek.
c. Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dapat
dilihat oleh pemilik proyek.
d. Konsultan pengawas memberikan saran atau pertimbangan kepada
pemilik proyek maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan.
e. Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan
kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan proyek.
f. Memilih dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan merek yang
diusulkan oleh kontraktor agar sesuai dengan harapan pemilik proyek namun tetap
berpedoman dengan kontrak kerja konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya.
4.
Pelaksana
a. Memahami gambar desain dan spesifikasi teknis sebagai pedoman
dalam melaksanakan pekerjaan dilapangan.
b. Bersama dengan bagian enginering menyusun kembali metode
pelaksanaan konstruksi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
c. Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan dilapangan
sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan biaya yang telah ditetapkan.
d. Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan
kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan.
e. Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan
pekerjaan dilapangan.
f. Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan, apabila
terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di lapangan.
g.
Bersama
dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan memproses berita
5. Quality
Pengawas
proyek yang bertugas untuk mengawasi suatu pekerjaan diproyek sudah memenuhi
unsur standar.
- Logistik dan Keuangan
a.
Mencari dan mensurvey data jumlah material beserta
harga bahan dari beberapa supplier atau toko material bangunan sebagai data
untuk memilih harga bahan termurah dan memenuhi standar kualitas yang telah
ditetapkan.
b.
Melakukan pembelian barang atau alat ke supplier atau
toko bahan bangunan dengan melaksanakan seleksi sebelumnya sehingga bisa
mendapatkan harga termurah pada supplier terpilih.
c.
Menyediakan dan mengatur tempat penyimpanan material yang sudah di datangkan ke area proyek sehingga dapat
tertata rapi dan terkontrol dengan baik jumlah pendatangan dan pemakaiannya.
d.
Melakukan pencatatan keluar masuknya barang serta
bertanggung jawab atas kedatangan dan ketersediaan material yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan pembangunan.
e.
Membuat dan menyusun laporan material sesuai dengan
format yang sudah menjadi standar perusahaan.
- Mandor
Ahli dalam pemilihan tenaga kerja serta mengkoordinasikan para
tukang.
STRUKTUR ORGANISASI
KONTRAKTOR
|
Project Manager
|
|
Ir.Yusron Mastur.SE
|
|
Quantity/Adm.Teknik
|
|
Agus
|
|
Inspector
|
|
Iwan.ST
|
|
Keuangan dan Logistik
|
|
Agus
|
|
Pelaksana
|
|
Sagiyo
|
|
Quality
|
|
Iwan.ST
|
|
Mandor
|
|
Timbul
|
Gambar 2.1
Struktur organisasi PT.
Brantas Abipraya
BAHAN DAN ALAT
A.
Bahan Bangunan
Bangunan
dikatakan baik jika memiliki kekuatan struktur. Kekuatan struktur erat kaitanya
dengan kekuatan bahan. Kekuatan bahan tergantung jenis dan kualitasnya, cara
pengerjaanya dan perawatanya. Bahan bangunan merupakan komponen yang sangat
mempengaruhi mutu dari hasil pekerjaan. Maka bahan bangunan yang digunakan
sedapat mungkin merupakan yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan
biaya yang ada, disesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat (RKS).
Semua
bahan yang akan dipakai diproyek melalui persetujuan pengawas sehingga sesuai
dengan persyaratan dalam RKS dan dapat meninjau mutu pekerjaan dilapangan.
Bahan yang akan dipakai hendaknya menggunakan bahan yang masih baru dan masih
terjaga mutunya.
Penyimpanan
bahan bangunan perlu diperhatikan, agar bahan bangunan yang dipakai tetap dalam
kondisi yang layak pakai. Apabila selama penyimpanan bahan menjadi tidak layak
pakai, maka pengawas akan meminta pelaksana selaku penanggung jawab agar
mengganti dengan bahan yang sesuai persyaratan. Bahan yang memenuhi syarat
yaitu bahan yang sesuai dengan peraturan-peraturan standar yang berlaku di
Indonesia. Bahan-bahan yang dipergunakan dalam proyek ini adalah :
Bahan-bahan yang dipergunakan dalam proyek ini adalah:
1. Semen
Semen yang digunakan adalah Semen Portland Tipe I dan
merupakan hasil produksi dalam negeri satu merk. Semen yang digunakan kemasan
50 kg untuk struktur seperti pada
Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Semen
2. Agregat Kasar
Agregat yang dipakai diperoleh
dari gunung merapi. Untuk
pembuatan beton yang digunakan untuk struktur seperti pembuatan kolom, balok
dan plat lantai.
Agregat untuk beton harus
memenuhi seluruh ketentuan berikut ini :
a. Agregat
beton harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari SII 0052-80 tentang
"Mutu dan Cara Uji Agregat Beton". Bila tidak tercakup di dalam SII
0052-80, maka agregat tersebut harus memenuhi ketentuan ASTM C23 "Specification for Concrete Aggregates".
b. Di dalam segala hal, ukuran besar
butir nominal maksimum agregat kasar harus tidak melebihi syarat - syarat
berikut :
1. seperlima jarak terkecil antara
bidang samping dari cetakan beton.
2. sepertiga dari tebal pelat.
3. 3/4 jarak bersih minimum antar
batang tulangan, atau berkas batang tulangan.
Penyimpangan dari
batasan-batasan ini diijinkan jika menurut penilaian Tenaga Ahli, kemudahan
pekerjaan, dan metoda konsolidasi beton adalah sedemikian hingga dijamin tidak
akan terjadi sarang kerikil atau rongga. Gambaran agregat kasar ditampilkan
pada Gambar 3.2.
Gambar
3.2 Agregat kasar (kerikil)
3. Agregat Halus
Agregat halus (pasir) yang digunakan sebagai campuran
adukan beton, campuran untuk pasangan bata, dan plesteran harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam SNI-03-2847-2002. Agregat halus (pasir) adalah bahan batuan yang
berukuran kecil, yang lolos ayakan 5 mm dan tertinggal pada ayakan 0,75 mm.
Kualitas pasir yang
digunakan untuk campuran adukan beton harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu
:
a.
Pasir harus
terdiri dari butiran-butiran yang beraneka ragam besarnya.
b.
Tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu
banyak.
c.
Butir-butir pasir harus bersifat kekal, dalam arti
tidak hancur atau pecah oleh pengaruh cuaca, misalnya oleh pengaruh kelembaban,
hujan dan terik matahari.
d.
Pasir tidak mengandung lumpur lebih dari 5%, apabila
lebih dari itu maka pasir harus
dicuci.
e.
Pasir laut tidak boleh digunakan untuk semua mutu
beton, kecuali dengan petunjuk lembaga pemeriksaan bahan yang diakui.
f.
Syarat-syarat
tersebut harus di buktikan dengan pengujian di laboratirium.
Pasir yang belum
digunakan sebaiknya disimpan dalam bak dengan alas lantai ringan untuk menghindari
tercampurnya dengan tanah. Gambaran
agregat kasar ditampilkan pada Gambar 3.3.
Gambar 3.3 Agregat halus (pasir)
4. Air
Air yang digunakan diperoleh dari
sumur pompa kemudian untuk
campuran beton harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut ini:
a. Jika mutunya meragukan harus
dianalisis secara kimia dan dievaluasi mutunya menurut tujuan pemakaiannya.
b. Harus bersih, tidak mengandung
lumpur, minyak dan benda terapung lainnya, yang dapat dilihat secara visual.
c. Tidak mengandung benda-benda
tersuspensi lebih dari 2 gram/liter.
d. Tidak mengandung garam-garam yang
dapat larut dan dapat merusak beton (asam-asam, zat organik, dan sebagainya)
lebih dari 15 gram/liter. Kandungan clorida (Cl) tidak lebih dari 500 ppm dan
senyawa sulfat (sebagai SO3) tidak lebih dari 100 ppm.
e.
Jika
dibandingkan dengan kuat tekan adukan yang menggunakan air suling, maka
penurunan kekuatan adukan beton dengan air yang digunakan tidak lebih dari 10
%.
5. Baja Tulangan
Baja tulangan yang digunakan
harus memenuhi ketentuan berikut in:
a.
Baja
tulangan yang digunakan adalah setara dengan produk Krakatau Steel (KS).
b. Tidak boleh mengandung
serpih-serpih, lipatan-lipatan, retak-retak, gelombang-gelombang, cerna-cerna
yang dalam, atau berlapis-lapis.
c. Hanya diperkenankan berkarat
ringan pada permukaan saja.
d. Untuk tulangan utama (tarik/tekan
lentur) harus digunakan baja tulangan deform (BJTD 40), dengan jarak antara dua
sirip melintang tidak boleh lebih dari 70 % diameter nominalnya, dan tinggi
siripnya tidak boleh kurang dari 5 % diameter nominalnya.
e.
Tulangan dengan simbol ”Ø” mm dipakai BJTP 24 dengan fy = 240
Mpa, dan untuk tulangan dengan simbol ”D” mm memakai BJTD 40 dengan fy = 400 Mpa
bentuk ulir.
f. Kualitas dan diameter nominal
dari baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian
laboratorium, yang pada prinsipnya menyatakan nilai kuat leleh dan berat per meter panjang
dari baja tulangan dimaksud.
g.
Diameter
nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari
sertifikat pengujian tersebut dan harus ditentukan dari rumus :
d = 4.029 √B , atau d = 12.47 √G
…………….. (3.1)
dengan :
d = diameter nominal (mm),
B = berat baja tulangan (N/mm),
G = berat baja tulangan (kg/m).
h.
Toleransi berat batang
contoh yang diijinkan dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan untuk foto tulangan baja
diperlihatkan pada Gambar 3.4.
Tabel 3.1
Toleransi berat batang yang dijinkan
|
Diameter Tulangan Baja Tulangan
|
Toleransi Berat Yang Diijinkan
|
|
Ø < 10
|
± 7 %
|
|
10 mm < Ø <
16 mm
|
± 6 %
|
|
16 mm < Ø <
28 mm
|
± 5 %
|
|
Ø > 28 mm
|
± 4 %
|
Sumber
: PPBBG (Pedoman-Pedoman Perencanaan Baja dan Gedung) tahun 1987.
Gambar
3.4
Baja tulangan
6. Kawat Bendrat
Kawat bendrat adalah
kawat yang terbuat dari baja lunak berdiameter
minimum 1 mm yang memiliki fungsi untuk mengikat rangkaian baja tulangan agar
kedudukannya tidak berubah dan kawat bendrat juga berfungsi memperkuat hubungan
antar sambungan tulangan sehingga sambungan dapat bekerja sama menahan beban
yang bekerja foto kawat bendrat diperlihatkan pada Gambar 3.5
.
Gambar 3.5 Kawat bendrat
7. Beton Ready Mix
Beton ready mix adalah adukan beton siap pakai yang dibuat
dipabrik (batching plant). Beton
ready mix dari Perusahaan Karya
Beton. Mutu beton yang dipakai pada
proyek ini adalah K-200 untuk footplate, sloof, kolom, balok dan pelat lantai. Alasan utama dipakai beton ready
mix adalah mutu beton yang dihasilkan lebih sesuai dengan mutu beton yang
direncanakan sehingga lebih mendekati dari hasil hitungan, disamping itu waktu
yang digunakan akan lebih efisien beton ready
mix diperlihatkan pada Gambar
3.6.
Gambar 3.6 Beton ready mix
8. Paku
Paku
di gunakan untuk merangkai Bekisting,
Bouwplank, dan lain-lain. Paku
diperlihatkan pada Gambar 3.7.
Gambar 3.7 Paku
9. Kayu Papan
Kayu papan di
gunakan untuk Bouwplank dan
lain-lain. Kayu yang dipakai untuk
papan bouwplank dalam pembangunan proyek ini memakai kayu kasau kruing 5/7
dengan ukuran 3 x 20 cm foto kayu papan diperlihatkan pada Gambar 3.8.
Gambar 3.8 Kayu papan
10. Triplek
Triplek yang dipakai untuk bekesting dalam Proyek Pembangunan
Gedung Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini memakai triplek dengan ukuran 480 x 180 mm dan tebal 7 mm. Pekerjaan
atap zinc calum dengan rangka
kuda-kuda baja. Pekerjaan plat baja
dan angkur untuk pekerjaan atap tahap berikutnya. Proteksi plat baja dan angkur
dengan cor kosong. Foto triplek diperlihatkan pada Gambar 3.9.
Gambar 3.9 Triplek
B.
Alat
– alat yang Digunakan
Alat kerja
merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam menciptakan hasil kerja yang
memuaskan. Kontraktor harus mengadakan semua peralatan atau perlengkapan kerja
yang lengkap untuk melaksanakan pekerjaan. Pemilihan dari jumlah kebutuhan
ditetapkan berdasarkan macam pekerjaan, rencana kerja, keadaan lapangan, dan
volume pekerjaan yang akan dikerjakan. Alat kerja tersebut harus cukup memadai
baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, agar dalam pelaksanaan pekerjaan
tidak terjadi saling pinjam akibat kurangnya alat serta harus memperbaiki alat
terlebih dahulu karena alat tersebut sebetulnya sudah tidak layak dipakai. Konsultan pengawas berhak untukmengintruksikan kapada kontraktor untuk melengkapi atau menambah
jumlah peralatan jika dirasa peralatan yang tersedia kurang memadai dalam usaha
mencapai target prestasi.
Alat–alat
yang digunakan dalam pelaksanaan proyek, baik itu alat berat maupun ringan
bertujuan untuk menunjang kelancaran pekerjaan proyek. Beberapa tujuan secara
umum :
1.
Mempercepat penyelesaian pekerjaan.
2.
Meningkatkan
kualitas dan kuantitas pekerjaan
3.
Meningkatkan
efisiensi dan produktivitas
pekerjaan.
4.
Menghemat
biaya.
Dalam pemilihan alat yang akan digunakan dalam pelaksanaan proyek harus
disesuaikan dengan besar volume pekerjaan yang ada, dengan kata lain harus ada
keseimbangan antara jumlah pekerjaan yang ada dengan alat yang akan
dioperasikan dengan hasil yang optimal. Beberapa alat yang digunakan
dalam proyek ini yaitu :
1.
Dump
truk
Dump truk digunakan untuk pengangkutan material tanah dan
pasir dalam pekerjaan
pengurugan, dan pengangkutan material lainnya.
2.
Theodolit
dan Waterpass
Waterpass
digunakan untuk membantu pekerjaan leveling permukaan tanah asli tempat
bangunan akan didirikan. Alat
bantu yang digunakan berupa mistar meteran. Theodolit digunakan untuk mengukur ketinggian elevasi tanah dan menentukan
kedudukan as/sumbu agar bangunan tetap simetris
3.
Truk
Pompa Beton (Concrete Pump)
Mobil
yang dilengkapi dengan pompa dan pipa yang digunakan untuk memompa dan
mengalirkan beton ke area yang tidak terjangkau truk aduk beton.
Gambar 3.11 Concrete
pump
4. Truk Aduk Beton (Concrete
Mixer Truck)
Truk aduk beton adalah truk beton
yang dilengkapi dengan mesin gerak
pengaduk beton (drum type concrete mixer) yang terpisah dengan
mesin truknya. Truk aduk beton ini berguna untuk mengangkut adukan beton ready
mix. Selama truk berjalan membawa adukan beton dari tempat percampuran
sampai ke lokasi proyek, silinder berputar terus-menerus searah jarum jam dengan kecepatan balapan
sampai dua belas kali permenit. Untuk mengeluarkan adukan di dalamnya silinder
diputar sedemikian rupa sehingga jika silinder diputar berlawanan dengan arah
jarum jam, adukan beton terangkat keluar. Truk aduk beton dengan kapasitas bak pengaduk/molen maksimal 7
m3 seperti pada
Gambar 3.12.
Gambar 3.12
Truk aduk beton (beton molen)
5.
Bar Cutter
Alat potong baja
tulangan yang tersedia pada proyek ini menggunakan daya listrik. Alat ini
sering disebut Reinforcing Bar Cutter.
Alat potong ini
berupa dua buah pisau yang dapat bergerak vertikal. Baja tulangan yang akan
dipotong dilewatkan diantara kedua pisau ini. Dengan menginjak saklar yang
terdapat dibagian bawah, pisau yang diatas akan memotong baja tulangan seperti
pada Gambar 3.13
6. Perancah (Schaffolding)
Schaffolding adalah perancah yang terbuat dari kerangka baja
yang berfungsi untuk mendukung bekisting, serta digunakan sebagai kerangka
penyanga pada pekerjaan finishing. Seperti pada Gambar 3.14
Gambar 3.14 Schaffolding
Schaffolding dipasang sebelum pekerjaan bekisting balok. Schaffolding didirikan sesuai dengan
ketinggian yang direncanakan.
Selain itu juga schaffolding
digunakan untuk membantu pemasangan bekisting
kolom pada saat pengecoran.
7. Gilas
(vibrator roller)
Alat yang digunakan
untuk pemadatan beton. Seperti pada Gambar 3.15.
Gambar 3.15
Gilas (vibrator roller)
8. Peralatan Bantu
Alat-alat Bantu yang digunakan sebagai pendukung
kelancaran kerja selain peralatan-peralatan diatas antara lain :
a.
Pada proyek ini gerobak dorong digunakan untuk
mempermudah dan memperlancar pekerjaan bangunan misalnya mengangkut agregat,
adukan beton ke tempat pengerjaan pada lantai yang sama.
b.
Cangkul
dan sekop, digunakan pada pekerjaan galian dan pembuatan adukan beton.
c.
Linggis, digunakan pada pekerjaan bongkar bekisting.
d.
Cetok, untuk meratakan permukaan beton.
e.
Catut dan tang untuk merangkai tulangan.
f.
Kunci pass digunakan untuk melepas dan
mengencangkan baut.
g.
Palu, untuk memasang paku.
h.
Alat pembengkok tulangan manual,alat ini
digunakan untuk membengkok tulangan manual dengan mengunakan tenaga manusia.
Tulangan yang dibengkokan hanya berdiameter dibawah 16 mm.
i.
Alat pemotong tulangan manual, alat ini
digunakan untuk memotong tulangan secara manual mengunakan tenaga manusia.
Tulangan yang dapat dipotong dengan alat ini adalah di bawah 16 mm.
j.
Unting-unting, benang dan selang, berfungsi
untuk mengontrol tegaknya alat struktur (pekerjaan waterpassing).
k.
Gergaji, untuk memotong kayu dan besi, gergaji mesin
bermerek Bosch.
l.
Ketam kayu berfungsi untuk menghaluskan permukaan kayu.
m.
Meteran, untuk mengukur dimensi.
n.
Saringan pasir, digunakan untuk memisahkan agregat
halus (pasir), dengan agregat kasar dan kotoran lainya.
o.
Penyambung Schaffolding
digunakan untuk menyambung Schaffolding.
p.
Lampu,lampu di gunakan untuk penerangan saat bekerja di
malam hari.
q.
Tapak Jack Basedigunakan agar Schaffolding dapat berdiri tapak Jack
Base memiliki 4 lubang untuk
paku agar schaffolding kokoh dan
tidak bergeser, tapak Jack Base juga dilengkapi dengan drat dan mur yang
berfungsi untuk menyetel ketinggian bekisting
atau schaffolding.
r.
Baut panjang
digunakan untuk menyatukan bekisting
kolom.
BAB
IV
PELAKSANAAN
A.
Pekerjaan
Struktur Atas
Struktur
bangunan bagian atas adalah bagian dari struktur yang berada di atas permukaan
tanah, mulai dari lantai dasar sampai atap. Bagian ini merupakan beban mati dan
beban hidup yang akan ditahan oleh pondasi. Perencanaan struktur bagian atas
pada umumnya meliputi pelat lantai, kolom, balok, tangga, serta bagian non structural berupa dinding dan atap.
Struktur atas pada gedung ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pekerjaan
Penulangan
a. Penulangan
kolom
Sebelum
tulangan kolom dipasang, terlebih dahulu
ditentukan as kolom. Hal ini
dimaksudkan agar letak kolom sesuai dengan yang telah direncanakan. Titik
tengah kolom terletak pada pertemuan dua benang yang ditarik dari dua bouwplank yang saling tegak lurus. Kemudian dengan unting-unting, ditetapkan
titik tengah kolom pada pondasi.
Sebelum
pekerjaan bekisting dilakukan maka
tulangan-tulangan kolom dirakit dahulu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan penulangan kolom adalah
jumlah sengkang, jarak sengakang, dimensi tulangan dan panjang penyaluran. Urutan pekerjaan penulangan kolom adalah
sebagai berikut:
a) Mendirikan
penyangga kolom, untuk membantu agar tulangan kolom bisa berdiri tegak.
Penyangga tulangan kolom berupa schaffolding.
b) Tulangan
pokok dipasang dan diikatkan pada penyangga, sedangkan bagian bawah diikat
dengan tulangan menggunakan kawat bendrat.
c) Begel
dipasang dengan jarak tertentu dan diikatkan pada tulangan pokok dengan
menggunakan kawat bendrat pada simpul-simpul pertemuan. Pemasangan begel dengan
cara memasukkan begel melalui ujung bagian atas kolom dengan meregangkan begel.
Penulangan kolom dapat dilihat
pada Gambar
3.16 sedangkan untuk pengerjaan
penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.17
Gambar 3.17 Pengerjaan Penulangan
Kolom
b. Penulangan
balok
Gambar 3.18 Penulangan Balok
Gambar
3.19
Pengerjaan
Penulangan Balok
c. Penulangan
pelat
Penulangan
pelat meliputi penulangan arah memanjang dan melintang. Tulangan dipasang sesuai dengan gambar
rencana seperti
pada Gambar 3.20 sedangkan untuk
pengerjaan penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.21
Gambar
3.20 Penulangan Pelat
Gambar
3.21 Pengerjaan Penulangan Pelat
2. Pekerjaan
Bekisting (Acuan)
Bekisting
adalah cetakan beton, biasanya terbuat dari pasangan batako atau kayu yang
fungsinya sebagai pencetak dalam membuat beton bertulang supaya mempunyai
bentuk dan ukuran yang dikehendaki.
Bekisting
juga berfungsi sebagai penyangga sementara untuk semua beban sebelum struktur
beton dapat berfungsi secara penuh. Pada pelaksanaan pekerjaan bekisting ada tiga tahapan, yaitu fabrikasi, pemasangan dan pencopotan. Gambar 3.22 dan Gambar
3.23 menunjukkan proses pemasangan bekisting.
Gambar
3.22 Pemasangan Bekisting
Gambar
3.23 Pemasangan Bekisting
3. Pekerjaan
Pengecoran
a. Pekerjaan
Persiapan
a) Pembersihan
pada semua acuan dari semua kotoran yang tersisa dengan menggunakan air compressor, atau dengan cara lain
yang memungkinkan.
b) Pemeriksaan
mengenai jumlah, letak, diameter tulangan, dan kekuatan ikatan dengan
sepengetahuan pengawas.
c) Pekerjaan
peralatan, alat bantu dan alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan seperti vibrator, concrete mixer, cetok, gerobak
dorong, sekop, cangkul dan lainnya.
b. Pengadukan
Beton
Komposisi
adukan beton telah ditentukan dari bahan agregatnya, semen dan air. Maka sifat-sifat spesi beton dapat
diperiksa. Pemeriksaan ini harus memakai
spesimen dari kilang beton (Beton Molen)
.
Anggapan
kelecakan spesi beton dapat diuji dengan pengujian nilai siump dengan memakai kerucut Abrams
yang diisi dengan beton segar tiga lapis, tiap lapis di tusuk-tusuk 25 kali
secara merata dengan tongkay baja.
Setelah muka atas diratakan, spesi didiamkan selama 30 detik kemudian
kerucut ditarik vertikal keatas perlahan-lahan.
Segera setelah itu turunnya puncak kerucut terhadap tinggi awal disebut
nilai slump.
c. Pengecoran
Pengisian
acuan dengan beton harus dikerjakan dalam waktu yang singkat, karena hal
tersebut maka pengecoran merupakan pekerjaan yang bersifat kritis. Ketika pengecoran harus dilakukan penjagaan
yang cukup karena apabila terjadi kesalahan maka tindakan dan biaya
perbaikannya sangat tinggi. Tinggi jatuh
spesi pada saat pengecoran maksimum 1,5 m.
Apabila terlalu tinggi maka diharuskan menggunakan talang saat
pengecoran. Kegiatan pengecoran antara
lain:
a) Pengecoran
Kolom
Pengecoran
kolom memerlukan perhatian yang teliti sehingga sebelum pengecoran harus
diperiksa dahulu tulangannya, sparing-sparingnya, bekistingnya, serta as kolomnya,
seperti
pada Gambar 3.24
Gambar
3.24 Pengecoran Kolom
b) Pengecoran
Plat Lantai
Pengecoran dilakukan setelah
semua terpasang dilanjutkan pembersihan bagian dalam plat lantai dari segala
kotoran seperti sisa kawat bendrat,potongan
kayu dan serbuk gergajian. Dan tinggi maksimum
jatuh campuran beton adalah 1,5 m untuk mencegah pemisahan antara bahan-bahan
pencampurnya serta untuk mencegah
kerusakan bekisting plat lantai seperti
pada Gambar 3.25
Gambar
3.25 Pengecoran Plat Lantai
B. Waktu
Kerja
Pelaksanaan pekerjaan akan berjalan dengan baik dan dinilai berhasil
apabila segala sesuatunya sesuai dengan rencana. Apabila semua pihak yang
terlibat dalam kegiatan tersebut mempunyai disiplin (waktu dan administrasi), maka efisien waktu dan efektifitas kerja dapat tercapai.
Waktu kerja yang berlaku Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa
(Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai
berikut ini :
1.
Jam kerja regular
Jumlah jam kerja selama 1 hari adalah 8 jam, dengan perincian :
a.
Pukul
08.00 – 12.00 WIB, waktu kerja I.
b.
Pukul 12.00 – 13.00 WIB, waktu istirahat I.
c.
Pukul
12.30 – 16.00 WIB, waktu kerja II.
d.
Pukul
16.00 – 18.30 WIB, waktu istirahat II.
e.
Pukul
18.30 – 22.00 WIB, waktu kerja III.
2.
Jam kerja lembur (Opname)
Jam kerja lembur dilakukan di luar jam kerja regular. Jam kerja lembur
dilakukan apabila pekerjaan harus segera diselesaikan atau melanjutkan pekerjaan yang tertunda untuk mencapai target. Untuk mencapai target
pekerjaan tersebut dilakukan jam kerja lembur. Jam kerja lembur pada proyek ini dilaksanakan mulai pukul 16.00 – 00.00 WIB.
BAB
V
TINJAUAN
KHUSUS
PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK
A.
Tinjauan
Umum
Balok adalah
batang tekan Horizontal dari rangka (frame)
struktur yang memikul beban dinding plat lantai di atasnya.
Balok meneruskan beban yang di atasnya kemudian di
salurkan ke kolom bawah hingga akhirnya sampai ke lapisan tanah keras melaui
pondasi. Keruntuhan suatu Balok merupakan lokasi kritis yang menyebabkan
runtuhnya (collaps) lantai yang
bersangkutan dan juga runtuh total (total
collapse) seluruh struktur. Balok merupakan bagian struktur utama dari suatu
gedung. Oleh karena itu balok harus diperhatikan dengan seksama baik
perencanaan maupun pelaksanaannya.
B. Pekerjaan
Persiapan
Pekerjaan persiapan disebut juga sebagai pekerjaan awal, yaitu pekerjaan sebelum pekerjaan balok itu sendiri dilaksanakan.pekerjaan persiapan meliputi :
1.
Siapkan
peralatan yang di gunakan seperti, support, kunci pas, bracing, besi terrot, schaffolding
2.
Siapkan
bahan-bahan,seperti : Triplek tebal 15 mm,besi tulangan D18 mm,besi sengkang D8 mm,kayu glugu 5/12,5/7,kawat baja (bendrat)
3. Siapkan tahu beton. Kualitas tahu beton paling tidak harus sama dengan mutu beton yang akan
dicor, dengan campuran I Pc :2 Ps, sedangkan untuk tebal tahu beton disesuaikan
dengan tebal selimut yang telah direncanakan. Pada waktu mencetak, tahu beton
diberi kawat bendrat pengikat
4. Melakukan pekerjaan pengukuran untuk menentukan letak posisi kolom
sesuai gambar rencana.
5. Menghitung kebutuhan besi tulangan dan bentuk potongan besi yang perlu
di persiapkan.
.
C. Pekerjaan
Penulangan
Pekerjaan penulangan Balok pada proyek ini menggunakan
besi tulangan dengan dimensi tulangan pokok D18 mm dan dimensi sengkang D8 mm.Sebelum pekerjaan bekesting dilaksanakan maka tulangan–tulangan
pada kolom dirakit terlebih dahulu. Adapun urutan cara pemasangan tulangan balok adalah sebagai berikut :
1.
Ukur
dimensi tulangan
2.
Potong besi tulangan pokok D18 sesuai gambar perencanaan.
3.
Potong
besi sengkang D8 dengan panjang sesuai gambar perencanaan..
4.
Potong
kawat baja (bendrat) menjadi 2 sama
panjang untuk mengikat sengkang dengan besi tulangan.
5.
Pasang tulangan pokok satu persatu dan di ikat dengan kawat bendrat. Setelah tulangan balok diikat pada bagian bawah sebagai acuan letak tulangan balok selanjutnya diikuti dipasang sengkang-sengkang berikutnya dan diikat dengan tulangan balok yang disusun sesuai dengan jarak yang
telah direncanakan sampai selesai dititik ketinggian tiap lantai. Tulangan sengkang menggunakan ukuran D8 dengan jarak 100 mm pada bagian tumpuan, sedangkanpada bagian lapangan menggunakan sengkang D8 dengan jarak 150 mm. Fungsi dari sengkang adalah sebagai pengaku balok karena adanya gaya momen yang bekerja pada balok. Proses pemasangan tulangan ditunjukkan Gambar
4.1 sampai Gambar 4.4 berikut ini
Gambar 4.1 Pemasangan tulangan utama balok
Gambar 4.2 Pemasangan tulangan utama balok
Gambar 4.3 Pemasangan tulangan sengkang balok
Gambar 4.4 Pemasangan tulangan sengkang balok
7.
Setelah
selesai semuanya baru masuk ke dalam pekerjaan bekesting.
8.
Gambar
Detail penulangan balok.
Gambar 4.5 Penulangan balok
Gambar 4.6 Penulangan balok
Gambar 4.7 Detail penulangan balok
Gambar 4.8 Detail penulangan balok
D. Pekerjaan
Pemasangan Bekisting
Balok
Pemasangan bekisting ini dilakukan setelah pekerjaan penulangan selesai. Pemasangan bekisting ini telah dipersiapkan sebelumnya.Pada setiap sisi bekisting cetak balok harus dipasang 2 buah balok yang dipasang sejajar dan berjarak 1 cm
untuk dudukan papan bekisting untuk menyatukan masing–masing menol. Dalam pemasangan bekesting harus dibuat benar–benar
rata, teliti dan kokoh untuk mendapatkan bentuk penampang balok beton sesuai dalam gambar rencana. Sebelum pemasangan dimulai papan bekisting dilumasi dengan pelumas bekesting, hal ini dilakukan
agar beton tidak melekat di menol bekisting ketika beton mengeras. Pada proyek ini pelumas dapat dioleskan menggunakan kuas. Bahan pelumas harus dilumaskan merata dan setipis mungkin.
Adapun urutan pemasangan bekisting adalah sebagai berikut
:
1.
Bekisting di
persiapkan sebelumnya dengan bahan terbuat dari triplek dan di rangkai dengan
kayu glugu 5/7.
Gambar 4.9 Papan bekisting
2.
Pasang
schaffolding sesuai ketinggian yang
telah di tentukan kemudian pasang balok kayu 5/12 yang
di pasang sejajar, kemudian pasang kayu 5/7 diletakkan sejajar sesuai panjang dan dimensi atau bentuk balok.dan pasang Bekisting triplek atau menol tebal 15 mm dipasangi 2 buah balok sebagai penyangga di kedua sisinya.
3.
Bekisting
dipasang dengan tepat dan sudah diperkuat,
sesuai dengan design dan standart yang telah ditentukan, sehingga dipastikan menghasilkan beton yang sesuai dengan kebutuhan akan bentuk,
kelurusan dan dimensi.
4.
Rancangan
bekisting harus memudahkan pembukaannya sehingga tidak merusakan
permukaan beton.
5.
Setelah bekisting terpasang dilakukan penyetelan dengan menarik benang arah memanjang dan arah melintang
agar balok sejajar
(sentris) terhadap kolom.
6.
Setelah benar–benar balok dirasa sentris rata bekisting diberi penopang agar
bekesting tidak bergeser (berubah).
7.
Setelah
selesai baru di lakukan pengecoran.
Gambar 4.10 Bekisting balok
Gambar 4.11 Bekisting balok
Gambar4.12 Bekisting
balok dan tulangan
Gambar 4.13 Hasil pekerjaan bekisting
balok
E.
Pekerjaan Pengecoran Balok
Sebelum balok dicor, bekesting harus diperiksa terlebih dahulu. Pemeriksaan ini bertujuan apabila jika ada kesalahan
yang terjadi masih dapat diperbaiki dan keamanan ketika pengecoran beton dapat terjamin. Selain itu bekisting adalah tempat penampung beton yang dikeluarkan dari mesin aduk beton
(molen). Sebelum diadakan pengecoran bagian dalam bekesting harus bersih dari semua kotoran maupun serpihan kayu dengan cara disemprot
air atau udara. Pemerikasaan ini dilakukan oleh pengawas. Apabila terdapat pengurangan atau kesalahan maka pihak pengawas memerintahkan kepada pelaksana untuk segera memperbaiki atau menambah bagian–bagian konstruksi yang kurang. Selama pengecoran, bekisting harus terus diperiksa untuk menghindari seandainnya ada kerusakan.
Adapun hal–hal yang perlu diperhatikan ketika pengecoran adalah sebagai berikut :
1.
Perubahan bentuk bekesting
yang tidak diduga.
2.
Tinggi jatuh beton, pemeriksaan kecepatan penuangan,
penurunan beton segar (mortar) dan cara pemadatan yang benar.
3.
Peluapan air semen.
Tahap – tahap pekerjaan pengecoran adalah sebagai berikut
:
1.
Beton segar dari truk mixer dituangkan ke mesin pompa beton,
kemudian beton segar
di uji slump dan kemudian diambil sampel uji untuk pengujian kuat tekan beton yang berdimensi dengan ukuran
diameter 15 cm dan tinggi
30 cm.
Sampel minimal
dua buah tiap satu truk mixer. Adapun cara pengambilan sampel ini sama halnya seperti pada pengecoran plat lantai dan atap balok.
2.
Beton segar dialirkan kedalam untuk cetakan bekisting balok menggunakan bantuan pipa.
3.
Pada waktu bersamaan dengan penuangan beton segar ke balok dilakukan juga penekanan atau pemadatan dengan menggunakan getaran dari alat bantu vibrator.
4.
Penekanan
dengan vibrator ini jangan terlampau berlebihan, penggetaran berulang dari
lapisan yang sebelumnya harus dihindari, karena hal ini dapat memberikan
tekanan tambahan dibagian bekesting yang
tidak diperhitungkan. Vibrator harus
dihindari untuk mennyenggol bekesting karena sewaktu-waktu bisa tergetar lepas
dan memungkinkan air semen pada sambungan akan mengalir keluar.
5.
Selanjutnya pengecoran dan penekanan dilakukan terus–menerus sampai semua rongga tertutup.
6.
Pelaksanaan
pengecoran balok bersamaan dengan pengecoran pelat lantai.
Pengecoran ini harus dilaksanakan dengan baik dan dibutuhkan tenaga kerja
yang berpengalaman. Apabila pelaksanaannya tidak baik maka akan didapatkan hasil
yang kurang maksimal seperti keroposnya beton.
Gambar 4.14 Proses pembersihan dari paku atau kawat
Gambar 4.15 Pengecoran balok
E.
Pembongkaran
Bekisting
Pembongkaran
bekisting pada kolom dilakukan
setelah 15
hari setelah pengecoran. Pembongkaran
ini harus dilakukan dengan hati–hati dan penuh perhatian. Bekisting harus sedapat mungkin dijaga sesuai dengan bentuk
asalnya. Hal ini agar bekisting bisa
digunakan secara berulang–ulang, ujung–ujung tepinya pun tidak boleh mengalami
kerusakan.
Adapun
urutan pembongkaran bekisting adalah
sebagai berikut :
1.
Kendorkan baut pengunci pada schaffolding
kemudian dilepaskan pada setiap sisi.
2.
Setelah baut terlepas, pada bagian pojok bekisting dibuka dengan linggis dan dilakukan secara hati–hati,
hal ini dilakukan pada bagian
yang lain juga.
3.
Usahakan dalam pembongkaran beton
yang kita inginkan tidak rusak.
4.
Sekrup ulir maupun schaffolding
di bersihkan dari mortar.
Tahapan pembongkaran bekisting dapat
dilihat pada Gambar 4.16
sampai dengan Gambar 4.18
Gambar
4.16 Pembongkaran scafoldding
Gambar 4.17 Pembongkaran bekisting balok
Gambar 4.18 Balok dan pelat
F.
Perawatan
Beton pada Balok
1. Jika
digunakan dengan kekuatan awal yang tinggi, maka beton tersebut harus
dipertahankan di dalam kondisi lembab paling sedikit 72 jam, kecuali jika
dilakukan perawatan yang dipercepat.
2.
Jika tidak digunakan semen dengan
kekuatan awal yang tinggi, maka beton harus dipertahankan dalam kondisi lembab
paling sedikit 168 jam setelah penuangan, kecuali jika dilakukan perawatan
dipercepat sebagaimana disebutkan di dalam pasal 5., Tata Cara Pembuatan
Rencana Campuran Beton Normal (SK SNI T-15-1990-03).
DAFTAR PUSTAKA
Amrina, Maryam, Laporan Praktikum Irigasi dan bangunan Air, tidak dipublikasikan,
Yogyakarta 2011.
Prayuda, Hakas, Laporan Praktikum Irigasi dan bangunan Air, tidak dipublikasikan,
Yogyakarta 2011.
Purwanto, Catatan Kuliah Sistem dan Rekayasa Irigasi, tidak dipublikasikan,
Yogyakarta 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar