inilah saya

inilah saya

Rabu, 18 Maret 2015

rabu, 11 maret 2015 12:04 WIB.....

LAPORAN KERJA PRAKTIK PEMBANGUNAN RUSUNAWA PGGRI YOGYAKARTA.


LAPORAN KERJA PRAKTEK
PADA PROYEK

Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta





WAHYU EKO PRASETYO
20110110168









JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

YOGYAKARTA
2015

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTEK
Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Lokasi : Jalan Ambarbinangun, Sonopakis, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta

Disusun guna melengkapi persyaratan untuk mencapai derajat Strata-1
Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta








Disusun oleh :
WAHYU EKO PRASETYO
20110110168









Telah diperiksa dan disetujui oleh :



Yogyakarta,                  2015
Site Manager




        Ir.Yusron Mastur, SE
Yogyakarta,                    2015
Dosen pembimbing




Edi Hartono, ST, MT.



KATA PENGANTAR
 





Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyusun Laporan Kerja Praktek. Sholawat serta salam kami ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga serta sahabat–sahabatnya yang telah membawa kita dari zaman kebodohan menuju alam yang penuh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Kerja praktek ini dilaksanakan di Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta berlokasi di di jalan Ambarbinangun, Sonopakis, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Pengamatan pelaksanaan pekerjaan dilakukan melalui gambar kerja pengamatan langsung di lapangan dan pengamatan data di kantor proyek.Penulisan Laporan Kerja Praktek ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan kurikulum guna menyelesaikan studi Strata 1 pada jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Selama melaksanakan Kerja Praktek, maupun dalam menyelesaikan laporan penyusun banyak menerima kritik dan saran, dukungan dan bimbingan serta petunjuk-petunjuk yang senantiasa sangat bermanfaat tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada :
1.        Allah SWT atas besarnya karunia yang diberikan dan tiada pernah bisa tertandingi oleh siapapun.
2.        Ibu, Bapak, dan kakak-kakak atas doa nya.
3.        Bapak Jazaul Ikhsan, ST, MT, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4.        Ibu Ir. Anita Widianti, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
5.        Dosen Pembimbing Kerja Praktek Bapak Edi Hartono, ST, MT,. yang telah memberi pengarahan dan bimbingan serta koreksi yang sangat baik dalam penyusunan laporan ini.
6.        Para pelaksana di tempat kerja praktek yang telah membimbing serta membantu selama pelaksanaan KP.
7.        Teman-teman Kerja Praktek yang telah ikut serta melaksanakan Kerja Praktek disana, Robby Nur, Ari Yudistira, Mahfudin.
Dengan segenap kerendahan hati dan keterbatasan kemampuan saya, saya selaku penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna menyempurnakan laporan ini.
Harapan saya selaku penyusun, semoga laporan ini dapat bermanfaat nantinya sebagai referensi dalam bidang Teknik Sipil dan terutama untuk kelanjutan studi penyusun.
 


Yogyakarta,    Januari 2015

           
                                                                                                        Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL            

HALAMAN PENGESAHAN 
LEMBAR MONITORING
KATA PENGANTAR 
DAFTAR ISI 
BAB I             PENDAHULUAN........................................................................     1
A. Latar belakang proyek................................................................... 1
B.  Tujuan kerja praktik  ....................................................................  1
C.  Lokasi Proyek  .............................................................................. 2
D. Data proyek  ................................................................................. 3
E.  Lingkup pengamatan proyek……………………………………  5
BAB II                        ORGANISASI  .......................................................................          6
A. Tinjauan umum.............................................................................. 6
B.  Struktur organisasi  ....................................................................... 6
BAB III          BAHAN DAN ALAT  ...................................................................   10
A. Bahan bangunan............................................................................ 10
B.  Alat – alat yang digunakan  .......................................................... 18
BAB IV          PELAKSANAAN  .......................................................................     23
A. Pekerjaan struktur atas................................................................... 23
B.  Waktu  kerja  .......................................................................          30
BAB V            TINJAUAN KHUSUS……………………......................................            33
A. Tinjauan umum.............................................................................. 33
B.  Pekerjaan persiapan  ....................................................................  33
C.  Pekerjaan penulangan  .................................................................. 34
D. Pekerjaan pemasangan bekesting balok  ......................................  38
E.  Pekerjaan pengecoran balok…………………………………       42
F.   Pembongkaran bekesting………………………………………    44
G. Perawatan beton pada balok……………………………………   46


BAB VI          PENGENDALIAN PROYEK………............................................. 47
A. Tinjauan umum......................................................................         47
B.  Pengendalian kualitas bahan  ........................................................ 48
C.  Pengendalian jadwal pelaksanaan  ............................................... 52
D. Pengendalian alat berat  ................................................................ 53
E.  Pengendalian tenaga kerja………………………………………  53
F.   Pengendalian biaya……………………………………………     54
G. Pengendalian pekerjaan………………………………………      54
BAB VI          PENUTUPAN……….............................................................           55
A. Kesimpulan.............................................................................        55
B.  Saran  .....................................................................................        55

LAMPIRAN
ABAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Proyek

Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan proses pembangunan gedung baru yang nantinya akan digunakan untuk tempat tinggal sementara bagi mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta. Proyek gedung ini sendiri terdiri dari 3 (tiga) lantai. Pekerjaan ini dikerjakan dengan sistem yang memisahkan kegiatan perencanaan dengan kegiatan pengawasan pelaksanaan proyek. Pelaksana pekerjaan ini adalah PT. Brantas Abipraya yang telah diberi kepercayaan dari Kementrian Perumahan Rakyat (Kemenpera) untuk pleaksanaan penyediaan rumah susun wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


B.     Tujuan Kerja Praktik
Adapun Tujuan dilaksanakannya kerja praktek pada Proyek Pembangunan rumah susun wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah :
1.      Menambah ilmu dan wawasan yang seluas-luasnya mengenai proyek pembangunan struktur gedung.
2.      Berperan aktif dalam mempelajari data perencanaan dan metode pelaksanaan pada suatu proyek konstruksi.
3.      Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4.      Memberikan gambaran pekerjaan di lapangan (melihat secara visual jalannya suatu proyek)
5.      Mengaplikasikan teori-teori yang telah didapat selama masa perkuliahan.


C.    Lokasi Proyek
U


                      


Gambar 1.1 Lokasi proyek




D.    Data Proyek
1.      Data Umum
Secara garis besar data Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1 Data proyek
Nama Proyek
Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

Waktu Pelaksanaan
Dimulai 6 Oktober 2014 – 15 Januari 2015

Rangka Bangunan dan Rangka Atap
Menggunakan beton bertulang dan baja

Fungsi Bangunan
Untuk tempat tinggal sementara Mahasiswa

Pemberi Tugas
Kemenpera

Penyedia Barang dan Jasa
PT. Brantas Abipraya

Konsultan Perencana
PT. Duta Mitra Konsultan

Konsultan Pengawas
Ciriajasa CM

Sumber Dana
BUMN

Sumber : Data proyek PT. Brantas Abipraya
2.      Data umum struktur dapat diuraikan sebagai berikut (Lampiran 2) :
a.       Pekerjaan Sloof
Sloof yang digunakan pada bangunan ini berukuran Sloof  S1 (300 × 450 mm),  dengan mutu beton K250.




b.      Pekerjaan Kolom
Kolom yang digunakan dengan mutu beton K250 pada bangunan ini mempunyai beberapa ukuran sebagai berikut :
Tabel 1.2 Tipe kolom
No
Tipe Kolom
Dimensi
1
K1A
400 × 600 mm
2
K1B
400 × 600 mm
3
K1C
300 × 500 mm
4
K1D
300 × 400 mm
5
K2A
300 × 500 mm
6
K2B
300 × 500 mm
Sumber : Gambar Kerja Proyek Pembangunan Rusunawa
c.       Pekerjaan Balok
Balok dengan mutu beton K250 yang digunakan pada bangunan ini mempunyai beberapa ukuran sebagai berikut :
Tabel 1.3 Tipe balok

Sumber : Gambar Kerja Proyek Pembangunan Rusunawa
d.      Pelat Lantai
Pelat lantai menggunakan beton bertulang dengan ketebalan sebagai berikut :
A1 Plat Lantai T = 120 mm, menggunakan tulangan D8-150
e.       Pekerjaan Tangga
Tangga adalah jalur yang mempunyai trap – trap yang berguna untuk menghubungkan antar lantai. Tangga sebagai alat untuk naik turun antar lantai pada sebuah bangunan bertingkat. Letak tangga harus dibuat agar mudah terlihat dan mudah dicari oleh orang yang akan menggunakannya. Untuk Plat tangga menggunakan beton bertulang dengan ketebalan T = 170 mm, menggunakan tulangan D10-200 dan D13-150. Dan untuk Plat bordes tangga menggunakan beton bertulang dengan ketebalan T = 170 mm, menggunakan tulangan D10-200 dan D13-150.

E.     Lingkup Pengamatan Proyek
Kerja Praktek dilaksanakan selama 45 hari terhitung mulai tanggal 13 November 2014. Selama kerja praktek penyusun ikut pada pihak kontraktor. Penyusun hanya bisa melaporkan berbagai kegiatan proyek yang dilaksanakan sesuai dengan jadwal kerja praktek yang telah diprogramkan oleh PT. Brantas Abipraya. Karena keterbatasan waktu, maka kerja praktek yang kami laksanakan tidak dapat melakukan pengamatan pelaksanaan pekerjaan secara menyeluruh dan oleh sebab itu kami membatasi masalah – masalah yang akan dibahas, yaitu pada bagian – bagian pekerjaan yang berlangsung selama kurun waktu kerja praktek saja.

BAB II
ORGANISASI

A.    Tinjauan Umum
Organisasi adalah sarana atau alat untuk mencapai suatu tujuan bersama, atau dengan kata lain, suatu wadah kegiatan bagi orang-orang yang bekerja sama dalam usaha mencapai suatu tujuan. Kegiatan tersebut dapat berupa jasa maupun fisik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam wadah kegiatan ini setiap orang harus jelas tentang tugas, kewajiban, tanggung jawab, wewenang, hubungan dan tata kerja masing-masing. Secara pendekatan proyek (project approach), proyek dapat diartikan sebagai kegiatan/tugas yang sifatnya tidak berulang/hanya sekali (one time under taking), yang dapat dinyatakan dalam bentuk tujuan yang spesifik/khas, komplek dengan tidak melupakan adanya saling ketergantungan antara tugas-tugas detail yang harus diselesaikan. Organisasi proyek bertanggung jawab untuk menyelesaikan pancapaian tujuan yang ditugaskan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan, waktu yang ditetapkan, batas-batas biaya yang ditentukan, standar kualitas yang telah disetujui dan laba yang ditujukan oleh perusahaan.
        
B.       Stuktur Organisasi
Struktur organisasi adalah suatu kerangka kerja yang mengatur pola hubungan kerja antara orang atau badan yang berada di dalamnya, dimana masing-masing mempunyai peranan, tugas, kewajiban serta tanggung jawab tertentu dalam suatu kesatuan yang utuh. Susunan struktur organisasi untuk Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pada pelaksanaan ada unsur – unsur pelaksana proyek yang akan dijelaskan sebagai berikut :


  1. Project Manager
a.       Melakukan koordinasi kedalam (team proyek, manajemen, dll) dan keluar.
b.      Dibantu semua koordinator menyiapkan rencana kerja operasi proyek, meliputi aspek teknis, waktu, administrasi dan keuangan proyek.
c.       Melaksanakan dan mengontrol operasional proyek sehingga operasi proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana (on track).
d.      Mengidentifikasi dan menyelesaikan potensi masalah yang akan timbul agar dapat diantisipasi secara dini.
e.       Mengkomunikasikan dalam bentuk lisan dan tertulis (laporan kemajuan pekerjaan).
  1. QC (Quantity Control) dan Tenaga administratif
a.       Memastikan operasional proyek berjalan dengan menggunakan standar yang sudah baku, serta diakui secara nasional maupun internasional.
b.      Memberikan saran dan masukan teknis dan non teknis tentang proses operasional proyek.
c.       Mengontrol proses operasional proyek agar berjalan sesuai dengan aturan dan tidak melanggar rambu-rambu yang sudah disepakati.
d.      Menyiapkan dokumen administrasi dan pendukung berupa : Berita acara layak pakai, Berita acara penerimaan barang, Surat pengiriman barang /DO, Berita acara nstallasi, Invoice/tagihan, dll) yang menyangkut operasional proyek selama pekerjaan berjalan.
e.       Melakukan monitoring terhadap kemajuan proyek.
f.       Melakukan proses penagihan.
g.      Membantu Proyek Manager dan para Koordinator dalam menyiapkan perangkat monitoring pekerjaan, pelaporan, berita acara dan lain lain.
h.      Menyesuaikan gambar perencana dengan kondisi nyata dilapangan.
i.        Menjelaskan kepada pelaksana lapangan/surveyor.
  1. Inspector
a.       Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak kerja.
b.      Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan pelaksanaan proyek.
c.       Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dapat dilihat oleh pemilik proyek.
d.      Konsultan pengawas memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan.
e.       Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan proyek.
f.       Memilih dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan merek yang diusulkan oleh kontraktor agar sesuai dengan harapan pemilik proyek namun tetap berpedoman dengan kontrak kerja konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya.
4.      Pelaksana
a.       Memahami gambar desain dan spesifikasi teknis sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan dilapangan.
b.      Bersama dengan bagian enginering menyusun kembali metode pelaksanaan konstruksi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
c.       Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan biaya yang telah ditetapkan.
d.      Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan.
e.       Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan pekerjaan dilapangan.
f.       Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan, apabila terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di lapangan.
g.      Bersama dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan memproses berita 
5.      Quality
Pengawas proyek yang bertugas untuk mengawasi suatu pekerjaan diproyek sudah memenuhi unsur standar.
  1. Logistik dan Keuangan
a.       Mencari dan mensurvey data jumlah material beserta harga bahan dari beberapa supplier atau toko material bangunan sebagai data untuk memilih harga bahan termurah dan memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.
b.      Melakukan pembelian barang atau alat ke supplier atau toko bahan bangunan dengan melaksanakan seleksi sebelumnya sehingga bisa mendapatkan harga termurah pada supplier terpilih.
c.       Menyediakan dan mengatur tempat penyimpanan material yang sudah di datangkan ke area proyek sehingga dapat tertata rapi dan terkontrol dengan baik jumlah pendatangan dan pemakaiannya.
d.      Melakukan pencatatan keluar masuknya barang serta bertanggung jawab atas kedatangan dan ketersediaan material yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pembangunan.
e.       Membuat dan menyusun laporan material sesuai dengan format yang sudah menjadi standar perusahaan.
  1. Mandor
Ahli dalam pemilihan tenaga kerja serta mengkoordinasikan para tukang.



STRUKTUR ORGANISASI KONTRAKTOR
Project Manager
Ir.Yusron Mastur.SE
Quantity/Adm.Teknik
Agus
Inspector
Iwan.ST
Keuangan dan Logistik
Agus
Pelaksana
Sagiyo
Quality
Iwan.ST
Mandor
Timbul
 










Gambar 2.1 Struktur organisasi PT. Brantas Abipraya
    
  BAB III
BAHAN DAN ALAT
                                                                                                                   
A.    Bahan Bangunan
Bangunan dikatakan baik jika memiliki kekuatan struktur. Kekuatan struktur erat kaitanya dengan kekuatan bahan. Kekuatan bahan tergantung jenis dan kualitasnya, cara pengerjaanya dan perawatanya. Bahan bangunan merupakan komponen yang sangat mempengaruhi mutu dari hasil pekerjaan. Maka bahan bangunan yang digunakan sedapat mungkin merupakan yang terbaik dan sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan biaya yang ada, disesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS).
Semua bahan yang akan dipakai diproyek melalui persetujuan pengawas sehingga sesuai dengan persyaratan dalam RKS dan dapat meninjau mutu pekerjaan dilapangan. Bahan yang akan dipakai hendaknya menggunakan bahan yang masih baru dan masih terjaga mutunya.
Penyimpanan bahan bangunan perlu diperhatikan, agar bahan bangunan yang dipakai tetap dalam kondisi yang layak pakai. Apabila selama penyimpanan bahan menjadi tidak layak pakai, maka pengawas akan meminta pelaksana selaku penanggung jawab agar mengganti dengan bahan yang sesuai persyaratan. Bahan yang memenuhi syarat yaitu bahan yang sesuai dengan peraturan-peraturan standar yang berlaku di Indonesia. Bahan-bahan yang dipergunakan dalam proyek ini adalah :

Bahan-bahan yang dipergunakan dalam proyek ini adalah:
1.      Semen
Semen yang digunakan adalah Semen Portland Tipe I dan merupakan hasil produksi dalam negeri satu merk. Semen yang digunakan kemasan 50 kg untuk struktur seperti pada Gambar 3.1.

                





Gambar 3.1 Semen
2.  Agregat Kasar
Agregat yang dipakai diperoleh dari gunung merapi. Untuk pembuatan beton yang digunakan untuk struktur seperti pembuatan kolom, balok dan plat lantai.
Agregat untuk beton harus memenuhi seluruh ketentuan berikut ini :
a.       Agregat beton harus memenuhi ketentuan dan persyaratan dari SII 0052-80 tentang "Mutu dan Cara Uji Agregat Beton". Bila tidak tercakup di dalam SII 0052-80, maka agregat tersebut harus memenuhi ketentuan ASTM C23 "Specification for Concrete Aggregates".
b.      Di dalam segala hal, ukuran besar butir nominal maksimum agregat kasar harus tidak melebihi syarat - syarat berikut :
1.      seperlima jarak terkecil antara bidang samping dari cetakan beton.
2.      sepertiga dari tebal pelat.
3.      3/4 jarak bersih minimum antar batang tulangan, atau berkas batang tulangan.
Penyimpangan dari batasan-batasan ini diijinkan jika menurut penilaian Tenaga Ahli, kemudahan pekerjaan, dan metoda konsolidasi beton adalah sedemikian hingga dijamin tidak akan terjadi sarang kerikil atau rongga. Gambaran agregat kasar ditampilkan pada Gambar 3.2.
   Gambar 3.2 Agregat kasar (kerikil)
3. Agregat Halus
Agregat halus (pasir) yang digunakan sebagai campuran adukan beton, campuran untuk pasangan bata, dan plesteran harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam SNI-03-2847-2002. Agregat halus (pasir) adalah bahan batuan yang berukuran kecil, yang lolos ayakan 5 mm dan tertinggal pada ayakan 0,75 mm.
Kualitas pasir yang digunakan untuk campuran adukan beton harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu :
a.         Pasir harus terdiri dari butiran-butiran yang beraneka ragam besarnya.
b.         Tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu banyak.
c.         Butir-butir pasir harus bersifat kekal, dalam arti tidak hancur atau pecah oleh pengaruh cuaca, misalnya oleh pengaruh kelembaban, hujan dan terik matahari.
d.        Pasir tidak mengandung lumpur lebih dari 5%, apabila lebih dari itu maka pasir harus dicuci.
e.         Pasir laut tidak boleh digunakan untuk semua mutu beton, kecuali dengan petunjuk lembaga pemeriksaan bahan yang diakui.
f.          Syarat-syarat tersebut harus di buktikan dengan pengujian di laboratirium.
Pasir yang belum digunakan sebaiknya disimpan dalam bak dengan alas lantai ringan untuk menghindari tercampurnya dengan tanah. Gambaran agregat kasar ditampilkan pada Gambar 3.3.
       

                       





Gambar 3.3 Agregat halus (pasir)
4. Air
Air yang digunakan diperoleh dari sumur pompa kemudian untuk campuran beton harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut ini:
a.       Jika mutunya meragukan harus dianalisis secara kimia dan dievaluasi mutunya menurut tujuan pemakaiannya.
b.      Harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya, yang dapat dilihat secara visual.
c.       Tidak mengandung benda-benda tersuspensi lebih dari 2 gram/liter.
d.      Tidak mengandung garam-garam yang dapat larut dan dapat merusak beton (asam-asam, zat organik, dan sebagainya) lebih dari 15 gram/liter. Kandungan clorida (Cl) tidak lebih dari 500 ppm dan senyawa sulfat (sebagai SO3) tidak lebih dari 100 ppm.
e.       Jika dibandingkan dengan kuat tekan adukan yang menggunakan air suling, maka penurunan kekuatan adukan beton dengan air yang digunakan tidak lebih dari 10 %.






5. Baja Tulangan
Baja tulangan yang digunakan harus memenuhi ketentuan berikut in:
a.       Baja tulangan yang digunakan adalah setara dengan produk Krakatau Steel (KS).
b.      Tidak boleh mengandung serpih-serpih, lipatan-lipatan, retak-retak, gelombang-gelombang, cerna-cerna yang dalam, atau berlapis-lapis.
c.       Hanya diperkenankan berkarat ringan pada permukaan saja.
d.      Untuk tulangan utama (tarik/tekan lentur) harus digunakan baja tulangan deform (BJTD 40), dengan jarak antara dua sirip melintang tidak boleh lebih dari 70 % diameter nominalnya, dan tinggi siripnya tidak boleh kurang dari 5 % diameter nominalnya.
e.       Tulangan dengan simbol ”Ø” mm dipakai BJTP 24 dengan fy = 240 Mpa, dan untuk tulangan dengan simbol ”D” mm memakai BJTD 40 dengan fy = 400 Mpa bentuk ulir.
f.       Kualitas dan diameter nominal dari baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan sertifikat pengujian laboratorium, yang pada prinsipnya menyatakan nilai kuat leleh dan berat per meter panjang dari baja tulangan dimaksud.
g.      Diameter nominal baja tulangan (baik deform/BJTD) yang digunakan harus ditentukan dari sertifikat pengujian tersebut dan harus ditentukan dari rumus :

d = 4.029 √B , atau d = 12.47 √G …………….. (3.1)
dengan :
d = diameter nominal  (mm),
B = berat baja tulangan (N/mm),
G = berat baja tulangan (kg/m).
h.      Toleransi berat batang contoh yang diijinkan dapat dilihat pada Tabel 3.1 dan untuk foto tulangan baja diperlihatkan pada Gambar 3.4.


Tabel 3.1 Toleransi berat batang yang dijinkan
Diameter Tulangan Baja Tulangan
Toleransi Berat Yang Diijinkan
Ø < 10
± 7 %
10 mm < Ø < 16 mm
± 6 %
16 mm < Ø < 28 mm
± 5 %
Ø > 28 mm
± 4 %
Sumber : PPBBG (Pedoman-Pedoman Perencanaan Baja dan Gedung) tahun 1987.
Gambar 3.4 Baja tulangan
6. Kawat Bendrat
Kawat bendrat adalah kawat yang terbuat dari baja lunak berdiameter minimum 1 mm yang memiliki fungsi untuk mengikat rangkaian baja tulangan agar kedudukannya tidak berubah dan kawat bendrat juga berfungsi memperkuat hubungan antar sambungan tulangan sehingga sambungan dapat bekerja sama menahan beban yang bekerja foto kawat bendrat diperlihatkan pada Gambar 3.5
.
Gambar 3.5 Kawat bendrat

7. Beton Ready Mix
Beton ready mix adalah adukan beton siap pakai yang dibuat dipabrik (batching plant). Beton ready mix dari Perusahaan Karya Beton. Mutu beton yang dipakai pada proyek ini adalah K-200 untuk footplate, sloof, kolom, balok dan pelat lantai. Alasan utama dipakai beton ready mix adalah mutu beton yang dihasilkan lebih sesuai dengan mutu beton yang direncanakan sehingga lebih mendekati dari hasil hitungan, disamping itu waktu yang digunakan akan lebih efisien beton ready mix diperlihatkan pada Gambar 3.6.
Gambar 3.6 Beton ready mix
8. Paku
            Paku di gunakan untuk merangkai Bekisting, Bouwplank, dan lain-lain. Paku diperlihatkan pada Gambar 3.7.
    Gambar 3.7 Paku



9. Kayu Papan
            Kayu papan di gunakan untuk Bouwplank dan lain-lain. Kayu yang dipakai untuk papan bouwplank dalam pembangunan proyek ini memakai kayu kasau kruing 5/7 dengan ukuran 3 x 20 cm foto kayu papan diperlihatkan pada Gambar 3.8.
Gambar 3.8 Kayu papan
10. Triplek
Triplek yang dipakai untuk bekesting dalam Proyek Pembangunan Gedung Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini memakai triplek  dengan ukuran 480 x 180 mm dan tebal 7 mm. Pekerjaan atap zinc calum dengan rangka kuda-kuda baja. Pekerjaan plat baja dan angkur untuk pekerjaan atap tahap berikutnya. Proteksi plat baja dan angkur dengan cor kosong. Foto triplek diperlihatkan pada Gambar 3.9.
Gambar 3.9 Triplek
B.     Alat – alat yang Digunakan
Alat kerja merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam menciptakan hasil kerja yang memuaskan. Kontraktor harus mengadakan semua peralatan atau perlengkapan kerja yang lengkap untuk melaksanakan pekerjaan. Pemilihan dari jumlah kebutuhan ditetapkan berdasarkan macam pekerjaan, rencana kerja, keadaan lapangan, dan volume pekerjaan yang akan dikerjakan. Alat kerja tersebut harus cukup memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, agar dalam pelaksanaan pekerjaan tidak terjadi saling pinjam akibat kurangnya alat serta harus memperbaiki alat terlebih dahulu karena alat tersebut sebetulnya sudah tidak layak dipakai. Konsultan pengawas berhak untukmengintruksikan kapada  kontraktor untuk melengkapi atau menambah jumlah peralatan jika dirasa peralatan yang tersedia kurang memadai dalam usaha mencapai target prestasi.
Alat–alat yang digunakan dalam pelaksanaan proyek, baik itu alat berat maupun ringan bertujuan untuk menunjang kelancaran pekerjaan proyek. Beberapa tujuan secara umum :
1.        Mempercepat penyelesaian pekerjaan.
2.        Meningkatkan kualitas dan kuantitas pekerjaan
3.        Meningkatkan efisiensi dan produktivitas pekerjaan.
4.        Menghemat biaya.
            Dalam pemilihan alat yang akan digunakan dalam pelaksanaan proyek harus disesuaikan dengan besar volume pekerjaan yang ada, dengan kata lain harus ada keseimbangan antara jumlah pekerjaan yang ada dengan alat yang akan dioperasikan dengan hasil yang optimal. Beberapa alat yang digunakan dalam proyek ini yaitu :
1.         Dump truk
Dump truk digunakan untuk pengangkutan material tanah dan pasir dalam pekerjaan pengurugan, dan pengangkutan material lainnya.



2.         Theodolit dan Waterpass
Waterpass digunakan untuk membantu pekerjaan leveling permukaan tanah asli tempat bangunan akan didirikan. Alat bantu yang digunakan berupa mistar meteran. Theodolit digunakan untuk mengukur ketinggian elevasi tanah dan menentukan kedudukan as/sumbu agar bangunan tetap simetris
3.      Truk Pompa Beton (Concrete Pump)
Mobil yang dilengkapi dengan pompa dan pipa yang digunakan untuk memompa dan mengalirkan beton ke area yang tidak terjangkau truk aduk beton.
Gambar 3.11 Concrete pump

4.      Truk Aduk Beton (Concrete Mixer Truck)
     Truk aduk beton adalah truk beton yang dilengkapi dengan mesin gerak  pengaduk beton (drum type concrete mixer) yang terpisah dengan mesin truknya. Truk aduk beton ini berguna untuk mengangkut adukan beton ready mix. Selama truk berjalan membawa adukan beton dari tempat percampuran sampai ke lokasi proyek, silinder berputar terus-menerus searah jarum jam dengan kecepatan balapan sampai dua belas kali permenit. Untuk mengeluarkan adukan di dalamnya silinder diputar sedemikian rupa sehingga jika silinder diputar berlawanan dengan arah jarum jam, adukan beton terangkat keluar. Truk aduk beton dengan kapasitas bak pengaduk/molen maksimal 7 m3 seperti pada Gambar 3.12.
                           Gambar  3.12 Truk aduk beton  (beton  molen)

5.      Bar Cutter
     Alat potong baja tulangan yang tersedia pada proyek ini menggunakan daya listrik. Alat ini sering disebut Reinforcing Bar Cutter.
     Alat potong ini berupa dua buah pisau yang dapat bergerak vertikal. Baja tulangan yang akan dipotong dilewatkan diantara kedua pisau ini. Dengan menginjak saklar yang terdapat dibagian bawah, pisau yang diatas akan memotong baja tulangan seperti pada Gambar 3.13
                                         
6.     Perancah (Schaffolding)
Schaffolding adalah perancah yang terbuat dari kerangka baja yang berfungsi untuk mendukung bekisting, serta digunakan sebagai kerangka penyanga pada pekerjaan  finishing. Seperti pada Gambar 3.14
                                    Gambar 3.14 Schaffolding
 Schaffolding dipasang sebelum  pekerjaan bekisting balok. Schaffolding didirikan sesuai dengan ketinggian yang direncanakan. Selain itu juga schaffolding digunakan untuk membantu pemasangan bekisting kolom pada saat pengecoran.  

7.     Gilas (vibrator roller)
Alat yang digunakan untuk pemadatan beton. Seperti pada Gambar 3.15.
           
Gambar 3.15 Gilas (vibrator roller)
8.    Peralatan Bantu
Alat-alat Bantu yang digunakan sebagai pendukung kelancaran kerja selain peralatan-peralatan diatas antara lain :
a.          Pada proyek ini gerobak dorong digunakan untuk mempermudah dan memperlancar pekerjaan bangunan misalnya mengangkut agregat, adukan beton ke tempat pengerjaan pada lantai yang sama.
b.         Cangkul dan sekop, digunakan pada pekerjaan galian dan pembuatan adukan beton.
c.          Linggis, digunakan pada pekerjaan bongkar bekisting.
d.         Cetok, untuk meratakan permukaan beton.
e.          Catut dan tang untuk merangkai tulangan.
f.          Kunci pass digunakan untuk melepas dan mengencangkan baut.
g.         Palu, untuk memasang paku.
h.         Alat pembengkok tulangan manual,alat ini digunakan untuk membengkok tulangan manual dengan mengunakan tenaga manusia. Tulangan yang dibengkokan hanya berdiameter dibawah 16 mm.
i.           Alat pemotong tulangan manual, alat ini digunakan untuk memotong tulangan secara manual mengunakan tenaga manusia. Tulangan yang dapat dipotong dengan alat ini adalah di bawah 16 mm.
j.           Unting-unting, benang dan selang, berfungsi untuk mengontrol tegaknya alat struktur (pekerjaan waterpassing).
k.         Gergaji, untuk memotong kayu dan besi, gergaji mesin bermerek Bosch.
l.           Ketam kayu berfungsi untuk menghaluskan permukaan kayu.
m.       Meteran, untuk mengukur dimensi.
n.         Saringan pasir, digunakan untuk memisahkan agregat halus (pasir), dengan agregat kasar dan kotoran lainya.
o.         Penyambung Schaffolding digunakan untuk menyambung Schaffolding.
p.         Lampu,lampu di gunakan untuk penerangan saat bekerja di malam hari.
q.         Tapak Jack Basedigunakan agar Schaffolding dapat berdiri tapak Jack Base  memiliki 4 lubang untuk paku agar schaffolding kokoh dan tidak bergeser, tapak Jack Base  juga dilengkapi dengan drat dan mur yang berfungsi untuk menyetel ketinggian bekisting atau schaffolding.
r.           Baut  panjang digunakan untuk menyatukan bekisting kolom.



BAB IV
PELAKSANAAN
A.    Pekerjaan Struktur Atas
Struktur bangunan bagian atas adalah bagian dari struktur yang berada di atas permukaan tanah, mulai dari lantai dasar sampai atap. Bagian ini merupakan beban mati dan beban hidup yang akan ditahan oleh pondasi. Perencanaan struktur bagian atas pada umumnya meliputi pelat lantai, kolom, balok, tangga, serta bagian non structural berupa dinding dan atap. Struktur atas pada gedung ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1.    Pekerjaan Penulangan
a.    Penulangan kolom
Sebelum tulangan kolom dipasang, terlebih dahulu  ditentukan as kolom.  Hal ini dimaksudkan agar letak kolom sesuai dengan yang telah direncanakan. Titik tengah kolom terletak pada pertemuan dua benang yang ditarik dari dua bouwplank yang saling tegak lurus.  Kemudian dengan unting-unting, ditetapkan titik tengah kolom pada pondasi.

Sebelum pekerjaan bekisting dilakukan maka tulangan-tulangan kolom dirakit dahulu.  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengerjaan penulangan kolom adalah jumlah sengkang, jarak sengakang, dimensi tulangan dan panjang penyaluran.  Urutan pekerjaan penulangan kolom adalah sebagai berikut:
a)    Mendirikan penyangga kolom, untuk membantu agar tulangan kolom bisa berdiri tegak. Penyangga tulangan kolom berupa schaffolding.
b)   Tulangan pokok dipasang dan diikatkan pada penyangga, sedangkan bagian bawah diikat dengan tulangan menggunakan kawat bendrat.
c)    Begel dipasang dengan jarak tertentu dan diikatkan pada tulangan pokok dengan menggunakan kawat bendrat pada simpul-simpul pertemuan. Pemasangan begel dengan cara memasukkan begel melalui ujung bagian atas kolom dengan meregangkan begel.
Penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.16 sedangkan untuk pengerjaan penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.17

Gambar 3.17 Pengerjaan Penulangan Kolom

b.    Penulangan balok
Penulangan balok diawali dengan memasang bekisting balok bagian bawah yang terbuat dari multiplek. Penulangan balok meliputi penulangan balok induk dan balok anak, yang terdiri dari penulangan pokok dan penulangan geser, seperti pada Gambar 3.18 sedangkan untuk pengerjaan penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.19









Gambar 3.18 Penulangan Balok
         Gambar 3.19 Pengerjaan Penulangan Balok

c.    Penulangan pelat
Penulangan pelat meliputi penulangan arah memanjang dan melintang.  Tulangan dipasang sesuai dengan gambar rencana seperti pada Gambar 3.20 sedangkan untuk pengerjaan penulangan kolom dapat dilihat pada Gambar 3.21
Gambar 3.20 Penulangan Pelat
Gambar 3.21 Pengerjaan Penulangan Pelat

2.    Pekerjaan Bekisting (Acuan)
Bekisting adalah cetakan beton, biasanya terbuat dari pasangan batako atau kayu yang fungsinya sebagai pencetak dalam membuat beton bertulang supaya mempunyai bentuk dan ukuran yang dikehendaki.
Bekisting juga berfungsi sebagai penyangga sementara untuk semua beban sebelum struktur beton dapat berfungsi secara penuh. Pada pelaksanaan pekerjaan bekisting ada tiga tahapan, yaitu fabrikasi, pemasangan dan pencopotan. Gambar 3.22 dan Gambar 3.23 menunjukkan proses pemasangan bekisting.
Gambar 3.22 Pemasangan Bekisting
Gambar 3.23 Pemasangan Bekisting

3.    Pekerjaan Pengecoran
a.    Pekerjaan Persiapan
a)    Pembersihan pada semua acuan dari semua kotoran yang tersisa dengan menggunakan air compressor, atau dengan cara lain yang memungkinkan.
b)   Pemeriksaan mengenai jumlah, letak, diameter tulangan, dan kekuatan ikatan dengan sepengetahuan pengawas.
c)    Pekerjaan peralatan, alat bantu dan alat-alat yang sesuai dengan kebutuhan seperti vibrator, concrete mixer, cetok, gerobak dorong, sekop, cangkul dan lainnya.
b.    Pengadukan Beton
Komposisi adukan beton telah ditentukan dari bahan agregatnya, semen dan air.  Maka sifat-sifat spesi beton dapat diperiksa.  Pemeriksaan ini harus memakai spesimen dari kilang beton (Beton Molen) .
Anggapan kelecakan spesi beton dapat diuji dengan pengujian nilai siump dengan memakai kerucut Abrams yang diisi dengan beton segar tiga lapis, tiap lapis di tusuk-tusuk 25 kali secara merata dengan tongkay baja.  Setelah muka atas diratakan, spesi didiamkan selama 30 detik kemudian kerucut ditarik vertikal keatas perlahan-lahan.  Segera setelah itu turunnya puncak kerucut terhadap tinggi awal disebut nilai slump.
c.    Pengecoran
Pengisian acuan dengan beton harus dikerjakan dalam waktu yang singkat, karena hal tersebut maka pengecoran merupakan pekerjaan yang bersifat kritis.  Ketika pengecoran harus dilakukan penjagaan yang cukup karena apabila terjadi kesalahan maka tindakan dan biaya perbaikannya sangat tinggi.  Tinggi jatuh spesi pada saat pengecoran maksimum 1,5 m.  Apabila terlalu tinggi maka diharuskan menggunakan talang saat pengecoran.  Kegiatan pengecoran antara lain:
a)    Pengecoran Kolom
Pengecoran kolom memerlukan perhatian yang teliti sehingga sebelum pengecoran harus diperiksa dahulu tulangannya, sparing-sparingnya, bekistingnya, serta as kolomnya, seperti pada Gambar 3.24
Gambar 3.24 Pengecoran Kolom
b)   Pengecoran Plat Lantai
Pengecoran dilakukan setelah semua terpasang dilanjutkan pembersihan bagian dalam plat lantai dari segala kotoran seperti sisa kawat bendrat,potongan  kayu dan serbuk gergajian. Dan tinggi maksimum jatuh campuran beton adalah 1,5 m untuk mencegah pemisahan antara bahan-bahan pencampurnya serta untuk mencegah kerusakan bekisting plat lantai seperti pada Gambar 3.25
Gambar 3.25 Pengecoran Plat Lantai

B.     Waktu Kerja
Pelaksanaan pekerjaan akan berjalan dengan baik dan dinilai berhasil apabila segala sesuatunya sesuai dengan rencana. Apabila semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut mempunyai disiplin (waktu dan administrasi), maka efisien waktu dan efektifitas kerja dapat tercapai.
Waktu kerja yang berlaku Proyek Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) wilayah II Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut ini :
1.            Jam kerja regular
Jumlah jam kerja selama 1 hari adalah 8 jam, dengan perincian :
a.             Pukul 08.00 – 12.00 WIB, waktu kerja I.
b.            Pukul 12.00 – 13.00 WIB, waktu istirahat I.
c.             Pukul 12.30 – 16.00 WIB, waktu kerja II.
d.            Pukul 16.00 – 18.30 WIB, waktu istirahat II.
e.             Pukul 18.30 – 22.00 WIB, waktu kerja III.
2.            Jam kerja lembur (Opname)
Jam kerja lembur dilakukan di luar jam kerja regular. Jam kerja lembur dilakukan apabila pekerjaan harus segera diselesaikan atau melanjutkan pekerjaan yang tertunda untuk mencapai target. Untuk mencapai target pekerjaan tersebut dilakukan jam kerja lembur. Jam kerja lembur pada proyek ini dilaksanakan mulai pukul 16.0000.00 WIB.



 BAB V
TINJAUAN KHUSUS
PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK

A.      Tinjauan Umum
Balok adalah batang tekan Horizontal dari rangka (frame) struktur yang memikul beban dinding plat lantai di atasnya. Balok meneruskan beban yang di atasnya kemudian di salurkan ke kolom bawah hingga akhirnya sampai ke lapisan tanah keras melaui pondasi. Keruntuhan suatu Balok merupakan lokasi kritis yang menyebabkan runtuhnya (collaps) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh struktur. Balok merupakan bagian struktur utama dari suatu gedung. Oleh karena itu balok harus diperhatikan dengan seksama baik perencanaan maupun pelaksanaannya.
B.     Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan persiapan disebut juga sebagai pekerjaan awal, yaitu pekerjaan sebelum pekerjaan balok itu sendiri dilaksanakan.pekerjaan persiapan meliputi :
1.      Siapkan peralatan yang di gunakan seperti, support, kunci pas, bracing, besi terrot, schaffolding
2.      Siapkan bahan-bahan,seperti : Triplek tebal 15 mm,besi tulangan D18 mm,besi sengkang D8 mm,kayu glugu 5/12,5/7,kawat baja (bendrat)
3.      Siapkan tahu beton. Kualitas tahu beton paling tidak harus sama dengan mutu beton yang akan dicor, dengan campuran I Pc :2 Ps, sedangkan untuk tebal tahu beton disesuaikan dengan tebal selimut yang telah direncanakan. Pada waktu mencetak, tahu beton diberi kawat bendrat pengikat
4.      Melakukan pekerjaan pengukuran untuk menentukan letak posisi kolom sesuai gambar rencana.
5.      Menghitung kebutuhan besi tulangan dan bentuk potongan besi yang perlu di persiapkan.

.
C.    Pekerjaan Penulangan
Pekerjaan penulangan Balok pada proyek ini menggunakan besi tulangan dengan dimensi tulangan pokok D18 mm dan dimensi sengkang D8 mm.Sebelum pekerjaan bekesting dilaksanakan maka tulangan–tulangan pada kolom dirakit terlebih dahulu. Adapun urutan cara pemasangan tulangan balok adalah sebagai berikut :
1.        Ukur dimensi tulangan
2.        Potong besi tulangan pokok D18 sesuai gambar perencanaan.
3.        Potong besi sengkang  D8 dengan panjang sesuai gambar perencanaan..
4.        Potong kawat baja (bendrat) menjadi 2 sama panjang untuk mengikat sengkang dengan besi tulangan.
5.        Pasang tulangan pokok satu persatu dan di ikat dengan kawat bendrat. Setelah tulangan balok diikat pada bagian bawah sebagai acuan letak tulangan balok selanjutnya diikuti dipasang sengkang-sengkang berikutnya dan diikat dengan tulangan balok yang disusun sesuai dengan jarak yang telah direncanakan sampai selesai dititik ketinggian tiap lantai. Tulangan sengkang menggunakan ukuran D8 dengan jarak 100 mm pada bagian tumpuan, sedangkanpada bagian lapangan menggunakan sengkang D8 dengan jarak 150 mm. Fungsi dari sengkang adalah sebagai pengaku balok karena adanya gaya momen yang bekerja pada balok. Proses pemasangan tulangan ditunjukkan Gambar 4.1 sampai Gambar 4.4 berikut ini
 
Gambar 4.1 Pemasangan tulangan utama balok
Gambar 4.2 Pemasangan tulangan utama balok
Gambar 4.3 Pemasangan tulangan sengkang balok
Gambar 4.4 Pemasangan tulangan sengkang balok

7.         Setelah selesai semuanya baru masuk ke dalam pekerjaan bekesting.
8.         Gambar Detail penulangan balok.

Gambar 4.5 Penulangan balok
Gambar 4.6 Penulangan balok

Gambar 4.7 Detail penulangan balok
Gambar 4.8 Detail penulangan balok

D.   Pekerjaan Pemasangan Bekisting Balok
Pemasangan bekisting ini dilakukan setelah pekerjaan penulangan selesai. Pemasangan bekisting ini telah dipersiapkan sebelumnya.Pada setiap sisi bekisting cetak balok harus dipasang 2 buah balok yang dipasang sejajar dan berjarak 1 cm untuk dudukan papan bekisting untuk menyatukan masing–masing menol. Dalam pemasangan bekesting harus dibuat benar–benar rata, teliti dan kokoh untuk mendapatkan bentuk penampang balok beton sesuai dalam gambar rencana. Sebelum pemasangan dimulai papan bekisting dilumasi dengan pelumas bekesting, hal ini dilakukan agar beton tidak melekat di menol bekisting ketika beton mengeras. Pada proyek ini pelumas dapat dioleskan menggunakan kuas. Bahan pelumas harus dilumaskan merata dan setipis mungkin.
Adapun urutan pemasangan bekisting adalah sebagai berikut :
1.         Bekisting di persiapkan sebelumnya dengan bahan terbuat dari triplek dan di rangkai dengan kayu glugu 5/7.
Gambar 4.9 Papan bekisting

2.        Pasang schaffolding sesuai ketinggian yang telah di tentukan kemudian pasang balok kayu 5/12 yang di pasang sejajar, kemudian pasang kayu 5/7 diletakkan sejajar sesuai panjang dan dimensi atau bentuk balok.dan pasang Bekisting triplek atau menol tebal 15 mm dipasangi 2 buah balok sebagai penyangga di kedua sisinya.
3.        Bekisting dipasang dengan tepat dan sudah diperkuat, sesuai dengan design dan standart yang telah ditentukan, sehingga dipastikan menghasilkan beton yang sesuai dengan kebutuhan akan bentuk, kelurusan dan dimensi.
4.        Rancangan bekisting harus memudahkan pembukaannya sehingga tidak merusakan permukaan beton.
5.        Setelah bekisting terpasang dilakukan penyetelan dengan menarik benang arah memanjang dan arah melintang agar balok sejajar (sentris) terhadap kolom.
6.        Setelah benar–benar balok dirasa sentris rata bekisting diberi penopang agar bekesting tidak bergeser (berubah).
7.        Setelah selesai baru di lakukan pengecoran.

Gambar 4.10 Bekisting balok
Gambar 4.11 Bekisting balok

Gambar4.12 Bekisting balok dan tulangan
Gambar 4.13 Hasil pekerjaan bekisting balok







E.       Pekerjaan Pengecoran Balok
Sebelum balok dicor, bekesting harus diperiksa terlebih dahulu. Pemeriksaan ini bertujuan apabila jika ada kesalahan yang terjadi masih dapat diperbaiki dan keamanan ketika pengecoran beton dapat terjamin. Selain itu bekisting adalah tempat penampung beton yang dikeluarkan dari mesin aduk beton (molen).  Sebelum diadakan pengecoran bagian dalam bekesting harus bersih dari semua kotoran maupun serpihan kayu dengan cara disemprot air atau udara. Pemerikasaan ini dilakukan oleh pengawas. Apabila terdapat pengurangan atau kesalahan maka pihak pengawas memerintahkan kepada pelaksana untuk segera memperbaiki atau menambah bagian–bagian konstruksi yang kurang. Selama pengecoran, bekisting harus terus diperiksa untuk menghindari seandainnya ada kerusakan.
Adapun hal–hal yang perlu diperhatikan ketika pengecoran adalah sebagai berikut :
1.        Perubahan bentuk bekesting yang tidak diduga.
2.        Tinggi jatuh beton, pemeriksaan kecepatan penuangan, penurunan beton segar (mortar) dan cara pemadatan yang benar.
3.        Peluapan air semen.
Tahap tahap pekerjaan pengecoran adalah sebagai berikut :
1.        Beton segar dari truk mixer dituangkan ke mesin pompa beton, kemudian beton segar di uji slump dan kemudian diambil sampel uji untuk pengujian kuat tekan beton yang berdimensi dengan ukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Sampel minimal dua buah tiap satu truk mixer. Adapun cara pengambilan sampel ini sama halnya seperti pada pengecoran plat lantai dan atap balok.
2.        Beton segar dialirkan kedalam untuk cetakan bekisting balok menggunakan bantuan pipa.
3.        Pada waktu bersamaan dengan penuangan beton segar ke balok dilakukan juga penekanan atau pemadatan dengan menggunakan getaran dari alat bantu vibrator.
4.        Penekanan dengan vibrator ini jangan terlampau berlebihan, penggetaran berulang dari lapisan yang sebelumnya harus dihindari, karena hal ini dapat memberikan tekanan tambahan dibagian bekesting yang tidak diperhitungkan. Vibrator harus dihindari untuk mennyenggol bekesting karena sewaktu-waktu bisa tergetar lepas dan memungkinkan air semen pada sambungan akan mengalir keluar.
5.        Selanjutnya pengecoran dan penekanan dilakukan terus–menerus sampai semua rongga tertutup.
6.        Pelaksanaan pengecoran balok bersamaan dengan pengecoran pelat lantai.
Pengecoran ini harus dilaksanakan dengan baik dan dibutuhkan tenaga kerja yang berpengalaman. Apabila pelaksanaannya tidak baik maka akan didapatkan hasil yang kurang maksimal seperti keroposnya beton.

Gambar 4.14 Proses pembersihan dari paku atau kawat

Gambar 4.15 Pengecoran balok

E.       Pembongkaran Bekisting
Pembongkaran bekisting pada kolom dilakukan setelah 15 hari setelah pengecoran. Pembongkaran ini harus dilakukan dengan hati–hati dan penuh perhatian. Bekisting harus sedapat mungkin dijaga sesuai dengan bentuk asalnya. Hal ini agar bekisting bisa digunakan secara berulang–ulang, ujung–ujung tepinya pun tidak boleh mengalami kerusakan.
Adapun urutan pembongkaran bekisting adalah sebagai berikut :
1.         Kendorkan baut pengunci pada schaffolding kemudian dilepaskan pada setiap sisi.
2.         Setelah baut terlepas, pada bagian pojok bekisting dibuka dengan linggis dan dilakukan secara hati–hati, hal ini dilakukan pada bagian yang lain juga.
3.         Usahakan dalam pembongkaran beton yang kita inginkan tidak rusak.
4.         Sekrup ulir maupun schaffolding di bersihkan dari mortar.
Tahapan pembongkaran bekisting dapat dilihat pada Gambar 4.16 sampai dengan Gambar 4.18

 Gambar 4.16 Pembongkaran scafoldding

Gambar 4.17 Pembongkaran bekisting balok
Gambar 4.18 Balok dan pelat


F.     Perawatan Beton pada Balok
1.      Jika digunakan dengan kekuatan awal yang tinggi, maka beton tersebut harus dipertahankan di dalam kondisi lembab paling sedikit 72 jam, kecuali jika dilakukan perawatan yang dipercepat.
2.      Jika tidak digunakan semen dengan kekuatan awal yang tinggi, maka beton harus dipertahankan dalam kondisi lembab paling sedikit 168 jam setelah penuangan, kecuali jika dilakukan perawatan dipercepat sebagaimana disebutkan di dalam pasal 5., Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal (SK SNI T-15-1990-03).















DAFTAR PUSTAKA

Amrina, Maryam, Laporan Praktikum Irigasi dan bangunan Air, tidak dipublikasikan,
Yogyakarta 2011.
Prayuda, Hakas, Laporan Praktikum Irigasi dan bangunan Air, tidak dipublikasikan,
Yogyakarta 2011.
Purwanto, Catatan Kuliah Sistem dan Rekayasa Irigasi, tidak dipublikasikan,
Yogyakarta 2011.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar